
AMPB dan DPR Sepakati RUU Perampasan Aset Rampung Desember
- Investor merespons perkembangan tersebut dengan lebih positif dibandingkan kekhawatiran sebelumnya terhadap aksi demonstrasi
Medan Insight
MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,81 persen ke level 6.521,75 pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Penguatan terjadi di tengah aksi demonstrasi di depan gedung DPR yang berlangsung relatif damai serta adanya kesepakatan antara Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Bersatu (AMPB) dengan DPR terkait penyelesaian RUU Perampasan Aset.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu sentimen positif yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi politik. Sejumlah pimpinan DPR disebut telah membuat surat perjanjian untuk mengundurkan diri apabila pembahasan dan pengesahan RUU Perampasan Aset tidak rampung hingga 15 Desember 2026.
- 8 Cara Cerdas Kurangi Pengeluaran Agar Bisa Nabung Lebih Banyak
- Deretan Bisnis Peter Sondakh, Taipan yang Terseret Sengketa BWPT
- Harga Ayam Naik, Pemko Medan Siapkan Intervensi Pasar
Situasi politik yang relatif kondusif membuat IHSG mampu bertahan di zona hijau sepanjang sesi perdagangan. Investor merespons perkembangan tersebut dengan lebih positif dibandingkan kekhawatiran sebelumnya terhadap aksi demonstrasi.
“Pasar merespons positif situasi yang tetap terkendali,” ujar pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, Kamis (27/8/2026).
Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.715 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga Rp17.770 per dolar AS sepanjang perdagangan.
Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari penguatan indeks dolar AS. Kondisi tersebut semakin diperberat oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

Di sisi lain, tidak terdapat agenda ekonomi besar yang secara langsung menjadi penggerak utama pasar keuangan domestik pada perdagangan hari ini. Pergerakan aset masih banyak dipengaruhi sentimen geopolitik dan perkembangan kondisi politik dalam negeri.
Aksi demonstrasi di Jakarta yang berlangsung tanpa eskalasi besar juga membantu menjaga sentimen pasar. Kondisi tersebut membuat kekhawatiran terhadap gangguan aktivitas ekonomi dan pasar keuangan relatif mereda.
Sementara itu, harga emas dunia bergerak melemah ke level US$4.587 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,62 juta per gram. Penurunan harga emas berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak Brent tercatat berada di sekitar US$88 per barel.
Kenaikan harga minyak kembali membuat pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang. Tekanan inflasi yang berpotensi muncul akibat harga energi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
“Pergerakan pasar global kembali sensitif terhadap arah suku bunga AS,” kata Gunawan.
Dengan demikian, meski IHSG mendapat sentimen positif dari meredanya kekhawatiran politik domestik, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan eksternal. Pergerakan rupiah, minyak dan emas akan tetap menjadi perhatian investor dalam mencermati arah pasar selanjutnya.
