Kondisi banjir yang melanda Kampung Rendahan, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Medan Insight

Banjir Rendam 90 Rumah di Simalungun, 128 KK Terdampak

  • BNPB mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta banjir
Medan Insight
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

sumatrakini.com – Banjir melanda Kampung Rendahan, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (16/10/2026). Luapan Sungai Parpayakan dan Sungai Sordang setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari menyebabkan sekitar 90 unit rumah warga terendam dan berdampak pada 128 kepala keluarga (KK).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, banjir juga berdampak pada dua fasilitas umum, satu akses jalan, dan satu jembatan. Hingga Jumat, air belum surut. Warga masih bertahan di rumah masing-masing dan belum ada laporan mengenai pengungsian.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Simalungun bersama instansi terkait telah melakukan asesmen dan penanganan di lokasi terdampak.

Sejumlah kebutuhan mendesak mulai diidentifikasi untuk membantu warga menghadapi kondisi tersebut. Di antaranya tali tambang atau tali pemandu untuk membantu warga melewati akses jalan yang tergenang, serta bahan pokok atau sembako bagi keluarga terdampak.

Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu di sejumlah wilayah, BNPB juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta banjir.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi lahan kering dan rentan memicu kebakaran. Jika menemukan titik api atau indikasi kebakaran, warga diharapkan segera melaporkannya kepada petugas setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak, menyimpan cadangan air bersih selama pasokan masih tersedia, serta memanfaatkan sumber air secara efisien. Pemerintah daerah bersama masyarakat juga diharapkan berkoordinasi untuk memastikan distribusi air bersih menjangkau warga yang membutuhkan.

Sementara itu, warga yang tinggal di daerah rawan banjir diminta tetap waspada terhadap hujan berintensitas tinggi dan kenaikan permukaan air sungai. Pemantauan kondisi lingkungan menjadi penting untuk mengantisipasi kemungkinan banjir meluas.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengingatkan masyarakat agar mengikuti arahan petugas dan mengutamakan keselamatan apabila evakuasi diperlukan.

Warga juga diminta memantau informasi serta peringatan dini dari sumber resmi, seperti BNPB, BPBD, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk mengetahui perkembangan situasi dan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan.