Banjir melanda tiga desa di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada Kamis (29/10/2026)
Nasional & Internasional

BNPB Catat 2.285 Bencana, Dairi hingga Lumajang Dilanda Cuaca Ekstrem

  • "Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan sumber daya manusia, personel, peralatan, dan logistik, sekaligus memperkuat mekanisme sistem peringatan dini..."
Nasional & Internasional
Mei-mei

Mei-mei

Author

sumatrakini.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.285 kejadian bencana di Indonesia hingga Selasa, 3 November 2026. Bencana hidrometeorologi mendominasi laporan tersebut, seiring sejumlah wilayah mulai memasuki musim hujan. Di Sumatera Utara, cuaca ekstrem di Kabupaten Dairi menyebabkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya terluka.

Jumlah kejadian bencana bertambah tujuh dibandingkan data sehari sebelumnya. Penambahan itu meliputi banjir di Kabupaten Deli Serdang, Lumajang, Malang, dan Pidie Jaya, dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong dan Klaten, serta satu kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Dairi.

Memasuki November, sebagian wilayah Indonesia mulai mengalami musim hujan. Perubahan cuaca pada masa peralihan ini meningkatkan risiko bencana, terutama banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang memiliki riwayat bencana hidrometeorologi.

Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup luas adalah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Hujan deras sejak 1 November 2026 memicu luapan sungai, tanggul jebol, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Berdasarkan pembaruan data BNPB pada Selasa (3/11/2026), sebanyak 1.567 kepala keluarga (KK) terdampak dan 13 rumah mengalami kerusakan. Jumlah warga terdampak tersebut meningkat dari laporan sebelumnya yang mencatat 1.417 KK.

Dalam perkembangan terbaru, BNPB juga mengonfirmasi dua orang meninggal dunia akibat rangkaian bencana di Lumajang. Kedua korban merupakan ayah dan anak. 

Penanganan dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim gabungan. Petugas melakukan pendataan, membuka akses jalan yang tertutup longsor, serta memantau debit sungai dan kondisi tanggul untuk mengantisipasi bencana susulan.

Di Desa Purorejo, petugas juga menangani dampak bencana terhadap warga, termasuk membuka akses jalan tembus Tamansari–Iburaja yang sebelumnya tertutup longsor.

Bantuan logistik disiapkan dan disalurkan kepada masyarakat terdampak. Di Desa Rojopolo, bantuan yang diberikan antara lain 240 kaleng makanan siap saji, tambahan gizi, dan lauk pauk.

Di Sumatera Utara, cuaca ekstrem yang terjadi di Kabupaten Dairi pada Jumat (30/10/2026) sekitar pukul 19.00 WIB menyebabkan pohon tumbang dan menimpa rumah warga.

Peristiwa di Dusun Liren, Desa Kuta Gamber, Kecamatan Tanah Pinem, itu mengakibatkan satu orang meninggal dunia, satu orang mengalami luka-luka, serta satu unit rumah mengalami rusak berat.

BPBD Kabupaten Dairi telah melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan serta desa untuk memberikan penanganan kepada para korban.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa angin kencang dan hujan deras dapat memicu bencana yang mengancam keselamatan warga. Masyarakat diminta memperhatikan kondisi lingkungan, terutama pohon-pohon yang berpotensi tumbang.

Banjir juga melanda sejumlah wilayah lain di Indonesia. Di Kota Subulussalam, Aceh, sekitar 2.245 KK terdampak. Sementara itu, di Kabupaten Aceh Selatan tercatat 222 KK terdampak dan masih dalam pemantauan.

Di Kabupaten Deliserdang, banjir berdampak terhadap sekitar 13 KK dan dilaporkan telah surut. Adapun banjir di Kabupaten Malang berdampak terhadap 43 KK, dengan kondisi air juga telah surut.

BNPB menyatakan penanganan dan pemantauan terus dilakukan oleh BPBD bersama unsur terkait di masing-masing daerah. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan kawasan rawan genangan diminta memperhatikan perkembangan kondisi air serta mengikuti arahan petugas apabila diperlukan evakuasi.

Di tengah meningkatnya ancaman banjir dan tanah longsor, penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah daerah. Berdasarkan laporan harian Ditjen Koordinasi dan Pengendalian Operasi BNPB dengan pembaruan data per 2 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas lahan yang masih dalam penanganan mencapai sekitar 1.256 hektare di enam provinsi.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan penanganan terbesar, yakni 547 hektare. Berikutnya Papua Selatan 455 hektare, Sulawesi Tenggara 91 hektare, Sulawesi Tengah 89 hektare, Kalimantan Timur 60 hektare, dan Nusa Tenggara Timur 14 hektare.

Untuk mendukung penanganan, BNPB menyiagakan 51 unit armada udara. Armada tersebut terdiri atas 21 unit pesawat patroli, CASA, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 30 unit helikopter water bombing.
Sebanyak 47 unit armada dialokasikan di enam provinsi prioritas, sedangkan empat unit lainnya berada di luar provinsi prioritas.

Kondisi Papua Selatan menunjukkan bahwa ancaman kekeringan dan karhutla masih perlu diperhatikan meskipun sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga 20 Oktober 2026, awal musim hujan di Papua Selatan diperkirakan lebih lambat. Wilayah utara diprediksi memasuki musim hujan pada akhir November, sedangkan wilayah tengah hingga selatan pada pertengahan sampai akhir Desember. Sebanyak 46 dari 80 kecamatan di Papua Selatan juga berada dalam kondisi waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kesiapsiagaan perlu diperkuat untuk menghadapi perubahan ancaman bencana selama masa peralihan musim.

“Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan sumber daya manusia, personel, peralatan, dan logistik, sekaligus memperkuat mekanisme sistem peringatan dini. Masyarakat juga perlu memahami jalur evakuasi dan menyiapkan kebutuhan darurat,” kata Berton dalam keterangan tertulis BNPB, Selasa (3/11/2026).

BNPB mengingatkan pemerintah daerah agar memperkuat kesiapsiagaan melalui Surat Edaran BNPB Nomor 4 Tahun 2026 tentang Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Penghujan 2026/2027.
Pemerintah daerah diminta meningkatkan pemetaan wilayah rawan bencana, memastikan kesiapan personel dan logistik, mengoptimalkan dana darurat, serta memperkuat sistem peringatan dini.

Masyarakat juga diimbau membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang rapuh, dan menyiapkan tas siaga bencana untuk kebutuhan darurat selama tiga hari.

Selain itu, warga diminta memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG serta mengikuti informasi kebencanaan melalui kanal resmi BNPB dan BPBD setempat.

Kesiapsiagaan pemerintah dan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko serta dampak bencana, terutama ketika hujan lebat mulai terjadi di wilayah rawan banjir dan longsor.