Pedagang beras
Medan Insight

Dampak El Nino Naikkan Harga Pangan

  • "Harga pupuk, herbisida, plastik mulsa hingga insektisida naik dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan terhadap biaya produksi inilah yang saat ini lebih dirasakan petani..."
Medan Insight
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

MEDAN – Ancaman musim kering dan fenomena El Nino mulai dirasakan sejumlah wilayah Indonesia, Sumatera Utara justru lebih diuntungkan. Curah hujan yang masih cukup tinggi membuat sektor pertanian belum menghadapi gangguan produksi, pasokan air untuk lahan pertanian masih terjaga.

Kondisi tersebut sejalan dengan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak musim kemarau nasional berlangsung pada Juli hingga September 2026. Namun, karakteristik iklim di setiap daerah berbeda sehingga tidak seluruh wilayah mengalami dampak kekeringan dengan intensitas yang sama. 

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan belum terlihat ada gangguan tanam yang signifikan akibat musim kering. Menurutnya, persoalan yang lebih membebani petani justru berasal dari meningkatnya biaya produksi.

"Harga pupuk, herbisida, plastik mulsa hingga insektisida naik dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan terhadap biaya produksi inilah yang saat ini lebih dirasakan petani dibandingkan dampak langsung El Nino," katanya, Selasa (4/8/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan Sumut tidak sepenuhnya terbebas dari pengaruh El Nino. Dampak terbesar justru datang melalui mekanisme perdagangan antardaerah yang akan memengaruhi pembentukan harga komoditas pangan.

Menurutnya, ketika wilayah lain mengalami penurunan produksi akibat kekeringan, permintaan terhadap hasil pertanian dari daerah yang produksinya masih normal akan meningkat, termasuk dari Sumut.

"Keunggulan Sumut bukan berarti harga pangan akan terus murah. Ketika daerah lain membutuhkan pasokan lebih besar, komoditas akan mengalir keluar dan pasar akan membentuk keseimbangan harga baru," ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, perbedaan harga antarwilayah akan mendorong pedagang mendistribusikan komoditas ke daerah yang menawarkan harga lebih tinggi. Selama masih terdapat margin keuntungan, arus distribusi akan berlangsung melalui jalur darat, laut maupun udara.
Akibatnya, harga komoditas di Sumatera Utara memang berpeluang lebih rendah dibandingkan daerah yang terdampak kekeringan. Namun kondisi tersebut diperkirakan hanya berlangsung sementara sebelum mekanisme pasar kembali menyeimbangkan harga.

Gunawan menilai situasi ini justru menjadi peluang bagi sektor pertanian Sumatera Utara untuk menjaga pasokan nasional. Namun, pemerintah tetap perlu mengantisipasi lonjakan biaya produksi agar daya saing petani tidak melemah ketika permintaan dari luar daerah meningkat.

"Menjaga produktivitas saja tidak cukup. Stabilitas biaya produksi juga harus menjadi perhatian agar petani tetap memperoleh keuntungan dan masyarakat tidak menghadapi lonjakan harga yang berlebihan," pungkasnya.