
Delapan Putri Sumut Siap Berlaga di Ajang Nasional
- “Yang ingin kami bangun bukan hanya keberanian tampil di panggung, tetapi juga kesadaran bahwa setiap anak dan remaja memiliki potensi untuk berkembang...”
Medan Insight
MEDAN — Delapan putri asal Sumatera Utara siap membawa nama daerah dalam ajang nasional Puteri Anak Indonesia, Puteri Remaja Indonesia, dan Puteri Batik Indonesia 2026 di Jakarta. Selain berkompetisi dalam bidang bakat dan pengembangan diri, mereka akan menyuarakan berbagai isu, mulai dari pergaulan bebas di kalangan remaja, pelestarian lingkungan, hingga pengenalan batik dan pariwisata daerah.
Regional Director Puteri Anak dan Remaja Indonesia-Sumut, Rita Susanti Sinaga, mengatakan para peserta telah menjalani persiapan sejak terpilih dalam ajang tingkat provinsi pada Mei 2026. Mereka mengikuti pelatihan catwalk, kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking, pengembangan bakat, serta pembekalan mental dan wawasan.
Para peserta dijadwalkan berangkat secara bertahap pada 26 dan 28 Oktober mendatang. Karantina nasional dimulai pada 28 Oktober, sedangkan malam final dijadwalkan pada 31 Oktober 2026.
- Menaker Tinjau Magang Nasional di BRI, Apresiasi Pendampingan Mentor
- BRI Peduli Salurkan Energi Surya untuk Warga Terdampak Bencana di Sumatera
- TKD Naik pada 2027, Pemda Perlu Lebih Kreatif Mengelola Anggaran
Rita mengatakan persaingan di tingkat nasional diperkirakan berlangsung ketat karena setiap daerah mengirimkan perwakilan dengan kemampuan dan keunggulan masing-masing. Meski begitu, dia optimistis delapan putri asal Sumatera Utara mampu memberikan penampilan terbaik.

“Ajang ini menjadi kesempatan mereka menunjukkan karakter dan potensi yang telah dikembangkan selama persiapan. Saya berharap masyarakat Sumut mendoakan agar mereka dapat menjalani setiap tahapan dengan baik,” kata Rita dalam konferensi pers di Bumbu Nusantara Medan, Minggu (25/10/2026).
Kedelapan peserta adalah Gillian Victoria Chandra, Puteri Anak Indonesia; Keizha Ivania Br Sembiring, Puteri Batik Remaja; Sarah Carolyn Suntiur Saing, Puteri Remaja Indonesia; serta Tamara Sari Sipayung, Puteri Remaja Indonesia Lingkungan.
Peserta lainnya Cahaya Simanjuntak, Puteri Batik Cilik; Elora Sibarani, Runner Up 2 Puteri Batik Cilik; Callysta Berlian G Hutabarat, Puteri Anak Indonesia Pariwisata; dan Queen Siregar, Puteri Anak Indonesia Lingkungan.
Sarah Carolyn Suntiur Saing menjadi salah satu peserta yang ingin memanfaatkan ajang tersebut untuk menyuarakan persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja. Siswi kelas 12 SMA Santo Thomas 1 Medan itu mengusung advokasi bertajuk Generasi Cerdas Tanpa Pergaulan Bebas.
Dia mengatakan keikutsertaannya bermula dari informasi yang ditemukan ibunya melalui Instagram. Awalnya, dia merasa kurang percaya diri karena harus memasuki lingkungan baru yang berada di luar kebiasaannya. Namun, dorongan keluarga dan pengalaman selama mengikuti seleksi membuatnya berani mengambil kesempatan.
Ketertarikannya terhadap dunia musik juga menjadi bagian dari perjalanan pengembangan dirinya. Sarah gemar bermain dan mendengarkan musik, pernah mengikuti lomba band dan meraih juara tiga, serta beberapa kali tampil dalam pertunjukan musik langsung.
Di tengah aktivitasnya, ia tetap memprioritaskan pendidikan. Bercita-cita menjadi dokter seperti ayahnya, Simon Saing, spesialis obstetri dan ginekologi.
Dalam advokasinya, Sarah menyoroti pentingnya membangun pergaulan yang sehat dan menjaga fokus terhadap masa depan. Menurut dia, remaja perlu memiliki keberanian untuk menentukan pilihan serta tidak mudah terbawa lingkungan yang dapat merugikan diri sendiri.

“Saya ingin teman-teman sebaya lebih memahami risiko pergaulan bebas dan berani mengambil keputusan yang baik bagi masa depan mereka. Bagi saya, keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru juga menjadi pelajaran penting dalam proses ini,” ujarnya.
Selain mengangkat persoalan remaja, para peserta juga membawa isu lingkungan dan kebudayaan. Tamara Sari Sipayung, misalnya, ingin mendorong perubahan pola hidup masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan. Dia menilai kebiasaan membuang sampah sembarangan dan menebang pohon perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap kelestarian alam.
Sementara itu, Gillian Victoria Chandra menaruh perhatian pada kemampuan komunikasi anak. Melalui advokasinya, dia ingin mendorong anak-anak agar lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Menurutnya, kemampuan berkomunikasi menjadi bekal penting bagi anak untuk memahami persoalan di sekitarnya, menyampaikan pendapat, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Perhatian terhadap kebudayaan daerah dibawa Keizha Ivania Br Sembiring dan Cahaya Simanjuntak melalui kategori Puteri Batik. Keizha, yang duduk di kelas 11 SMAN Kabanjahe, ingin mengenalkan batik Karo agar semakin dikenal masyarakat di luar Sumut.
Adapun Cahaya mengusung advokasi Sinar Batik Cahaya dengan slogan Satu Garis Seribu Makna. Dia ingin mengajak generasi muda memahami batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan bagian dari kekayaan budaya yang menyimpan nilai dan makna.
Ia khusus memilih batik Gorga untuk diperkenalkan dalam kompetisi nasional. Ketertarikannya terhadap batik tumbuh sejak kecil, ketika dia mulai belajar membatik menggunakan canting saat duduk di kelas enam sekolah dasar dengan bimbingan neneknya.
Pengalaman tersebut mendorong Cahaya mengembangkan motif sendiri dengan tambahan unsur bintang dan cahaya berwarna kuning serta oranye. Motif itu disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan melalui advokasinya.
“Batik bukan hanya soal garis dan motif. Setiap batik daerah memiliki cerita dan makna yang perlu diketahui generasi muda agar kebudayaan ini tetap dikenal dan dihargai,” kata Cahaya.
Selain berlatih membatik, Cahaya mempersiapkan diri melalui latihan public speaking, penguatan mental, dan psikotes. Dia juga mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk mengikuti rangkaian kegiatan di tingkat nasional.
Elora Sibarani juga membawa misi mengenalkan batik daerah, khususnya batik Gorga. Dia ingin kekayaan motif lokal semakin dikenal anak-anak seusianya.
Di bidang pariwisata, Callysta Berlian G Hutabarat akan memperkenalkan sejumlah destinasi unggulan seperti Danau Toba dan Istana Maimun. Dia ingin menunjukkan bahwa Sumut memiliki kekayaan wisata dan budaya yang dapat menarik perhatian masyarakat luas.

Sementara itu, Queen Siregar membawa advokasi lingkungan yang berfokus pada kebiasaan menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Dia ingin mengajak anak-anak membangun kepedulian sejak dini, termasuk dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Melalui berbagai advokasi tersebut, delapan peserta berharap keikutsertaan mereka tidak hanya menjadi ajang untuk meraih prestasi, tetapi juga kesempatan memperkenalkan identitas Sumut di panggung nasional.
Rita berharap pengalaman yang diperoleh para peserta selama kompetisi dapat menjadi bekal untuk mengembangkan potensi diri setelah kembali ke daerah. Dia juga berharap mereka mampu menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja lain untuk berani mencoba hal baru tanpa mengabaikan pendidikan.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya keberanian tampil di panggung, tetapi juga kesadaran bahwa setiap anak dan remaja memiliki potensi untuk berkembang. Mereka perlu mendapat ruang untuk berkarya, menyampaikan gagasan, dan menunjukkan kontribusi bagi lingkungannya,” katanya.
