Ekonomi & Pariwisata

Deretan Bisnis Peter Sondakh, Taipan yang Terseret Sengketa BWPT

  • Peter Sondakh dikenal sebagai konglomerat di balik Rajawali Corpora. Kini namanya kembali disorot dalam sengketa investasi BWPT-Felda.
Ekonomi & Pariwisata
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Author

JAKARTA – Nama Peter Sondakh kembali menjadi sorotan setelah muncul sengketa investasi antara lembaga pemerintah Malaysia, Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (Felda), dengan kelompok usaha Rajawali.

Perselisihan tersebut berkaitan dengan investasi Felda di PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), perusahaan perkebunan kelapa sawit yang merupakan bagian dari kelompok usaha Rajawali. Masalah yang berawal dari transaksi pada 2016 itu kini berkembang menjadi perkara hukum dan bahkan menarik perhatian pemerintah Malaysia.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga telah membawa persoalan investasi Felda di BWPT dalam pembicaraan dengan Presiden Prabowo Subianto. Felda diperkirakan menghadapi potensi kerugian hingga RM2,5 miliar, atau sekitar Rp10,7 triliun-Rp11 triliun.

Di tengah mencuatnya kasus tersebut, sosok Peter Sondakh kembali menjadi perhatian. Ia merupakan pendiri sekaligus tokoh utama di balik Rajawali Corpora, kelompok usaha dengan portofolio yang membentang dari properti, perhotelan, media, pertambangan hingga perkebunan.

Baca juga : Agung Podomoro Bawa Talenta Muda Indonesia ke 16 Besar Dunia

Profil Bisnis Peter Sondakh

Peter Sondakh lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 23 Juni 1953. Ia berasal dari keluarga pengusaha yang menjalankan bisnis minyak kelapa dan ekspor kayu.

Kehidupan Peter berubah ketika sang ayah meninggal dunia. Pada usia sekitar 20 tahun, ia harus meninggalkan kuliahnya di bidang kedokteran gigi untuk mengambil alih bisnis keluarga.

Dari bisnis keluarga tersebut, Peter kemudian mulai membangun jaringan usaha yang semakin luas. Perjalanan bisnisnya berkembang dari perdagangan komoditas hingga merambah properti, media, pertambangan, perkebunan dan berbagai sektor lainnya.

Nama Peter Sondakh kemudian semakin dikenal setelah ia membangun Rajawali Group yang kini dikenal sebagai Rajawali Corpora.

Baca juga : Soal RUU Perampasan Aset yang Jadi Tuntutan Demo 27 Agustus

Salah satu pencapaian dalam bisnis Peter Sondakh terjadi pada 1984. Saat itu ia mendirikan PT Rajawali Wira Bhakti Utama, yang kemudian menjadi cikal bakal Rajawali Corpora.

Perusahaan tersebut disebut didirikan dengan modal awal sekitar Rp75 juta. Sebelum membangun Rajawali, Peter telah mulai masuk ke sejumlah bisnis properti. Pada 1976, ia tercatat menjadi pemegang saham PT Bumi Modern dan kemudian membangun Hotel Hyatt di Surabaya pada 1977.

Pada 1987, bisnis Peter juga merambah industri media melalui pendirian RCTI, salah satu stasiun televisi swasta pertama di Indonesia.

Ekspansi bisnis tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Peter dalam membangun kelompok usaha yang kemudian memiliki portofolio di berbagai sektor.

Dari Hotel, Media, Hingga Tambang

Bisnis properti dan perhotelan menjadi salah satu fondasi penting Rajawali. Peter Sondakh membangun portofolio hotel yang mencakup sejumlah properti premium, termasuk Four Seasons Hotel Jakarta serta jaringan St. Regis di Jakarta dan Bali.

Ekspansi Rajawali juga menjangkau Malaysia melalui kepemilikan atau pengelolaan sejumlah aset perhotelan, termasuk The Westin Langkawi Resort and Spa serta Sheraton Imperial Hotel Kuala Lumpur.

Di sektor media, Peter juga memiliki sejarah panjang, Rajawali terlibat dalam pendirian RCTI pada 1987. Setelah berkembang menjadi salah satu pemain besar industri televisi Indonesia, kepemilikan tersebut kemudian dilepas.

Rajawali juga pernah masuk ke bisnis telekomunikasi melalui XL Axiata sebelum kepemilikannya dilepas. Jejak bisnis media tersebut menunjukkan pola ekspansi Peter yang tidak terpaku pada satu sektor, ia memanfaatkan peluang di berbagai industri, kemudian mengalihkan modal ketika terdapat peluang yang dinilai lebih menarik.

Dalam perkembangan berikutnya, pertambangan menjadi salah satu sektor penting dalam portofolio Rajawali.

Baca juga : Anggaran Jomplang, Duit BNPB Hanya Setara 16 Jam MBG

Salah satu perusahaan yang terkait dengan kelompok usaha tersebut adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan emas dan mengelola tambang emas Toka Tindung di Sulawesi Utara.

ARCI melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2021 melalui penawaran umum perdana saham atau IPO. Masuknya perusahaan tambang emas ke pasar modal memperkuat eksposur Rajawali terhadap sektor komoditas dan aset tambang.

Selain emas, Rajawali juga pernah memiliki eksposur terhadap bisnis batu bara melalui PT Golden Eagle Energy Tbk.

Perusahaan tersebut menjadi bagian dari portofolio pertambangan Rajawali sebelum sebagian besar kepemilikannya dilepas kepada Geo Energy Resources dari Singapura.

BWPT, Bisnis Sawit yang Kini Jadi Sorotan

Di sektor perkebunan, salah satu nama yang paling mendapat perhatian saat ini adalah PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

BWPT merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki lahan perkebunan dalam skala besar. Perusahaan ini menjadi sorotan bukan hanya karena bisnis sawitnya, tetapi juga karena sengketa dengan Felda Malaysia.

Pada 2016, Felda melalui anak usahanya, FIC Properties Sdn Bhd (FICP), melakukan investasi untuk memperoleh sekitar 37% saham BWPT dengan nilai sekitar US$505,4 juta.

Transaksi tersebut kemudian menjadi sumber persoalan setelah Felda mengeksekusi hak put option dan meminta sahamnya dibeli kembali sesuai ketentuan perjanjian.

Sengketa tersebut berlanjut ke Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Putusan arbitrase pada 2024 kemudian menjadi salah satu dasar bagi Felda untuk menuntut pelaksanaan kewajiban pembelian kembali saham.

Baca juga : Fiskal Menyempit, Benahi Kebijakan Subsidi dan Transisi Energi!

Namun, persoalan eksekusi putusan arbitrase di Indonesia membuat sengketa tersebut belum berakhir.

Perjalanan bisnis Peter Sondakh membawa namanya masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes dengan total kekayaan diperkirakan mencapai sekitar US$2,7 miliar hingga US$3,3 miliar

Selain bisnis, Peter Sondakh juga memiliki aktivitas filantropi. Pada 2004, ia mendirikan Rajawali Foundation yang menjadi salah satu wadah kegiatan sosial dan filantropi Rajawali.

Yayasan tersebut menjalankan berbagai program yang berkaitan dengan pendidikan, lingkungan, kesehatan serta pengembangan kapasitas masyarakat.

Dengan demikian, kiprah Peter Sondakh tidak hanya berkaitan dengan dunia korporasi dan investasi, tetapi juga aktivitas sosial melalui yayasan yang berada dalam ekosistem Rajawali.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 27 Aug 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 27 Agt 2026