
Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Rupiah Menguat Tajam
- Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai respons rupiah terhadap pencalonan tersebut menjadi indikator penting bagi persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan
Ekonomi & Pariwisata
MEDAN – Rupiah bergerak menguat tajam pada perdagangan awal pekan, bahkan sempat menyentuh level Rp17.730 per dolar AS sebelum ditutup di posisi Rp17.750. Penguatan tersebut terjadi ketika pasar merespons pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).
Di tengah penguatan rupiah, pergerakan pasar saham justru berlawanan. IHSG ditutup melemah 0,69 persen ke level 6.365,374, setelah sepanjang perdagangan bergerak dalam rentang 6.362 hingga 6.462.
Tekanan terhadap IHSG mulai terlihat menjelang berakhirnya sesi pertama perdagangan dan berlanjut hingga penutupan. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati menyikapi sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik yang turut mendorong harga minyak mentah dunia.
- Harga Cabai Merah Turun, Ayam Tembus Rp60 Ribu
- InJourney Airports Dorong UMKM Raih Peluang Ekonomi di Destinasi Wisata
- Minyak Mentah Naik, Rupiah dan Emas Menguat
Harga minyak mentah jenis Brent masih bertahan di kisaran US$84 per barel. Kenaikan harga minyak menjadi salah satu risiko bagi pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga global.
Namun, rupiah justru menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Penguatan hingga level Rp17.730 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di Rp17.750 menjadi sinyal positif bagi pasar valuta asing domestik.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai respons rupiah terhadap pencalonan tersebut menjadi indikator penting bagi persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
“Pasar tampaknya merespons positif karena kesinambungan kebijakan moneter masih menjadi ekspektasi utama,” kata Gunawan.
Menurutnya, pencalonan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI memberikan gambaran awal mengenai kesinambungan arah kebijakan bank sentral. Hal yang menjadi perhatian investor bukan hanya sosok calon gubernur, tetapi juga sejauh mana independensi BI tetap terjaga.
Jika proses pergantian kepemimpinan BI berlangsung mulus dan tidak menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral, sentimen positif terhadap rupiah berpeluang berlanjut.
Di sisi lain, penguatan rupiah juga dinilai mampu mengurangi sebagian tekanan yang datang dari memburuknya sentimen geopolitik. Harga minyak yang kembali meningkat seiring ketegangan di Timur Tengah sebelumnya berpotensi menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang.

Sementara itu, harga emas dunia relatif stabil di sekitar US$4.339 per ons troy, atau setara kurang lebih Rp2,48 juta per gram. Emas masih mampu bertahan di level tinggi meski harga minyak mentah mengalami kenaikan.
Secara umum, lonjakan harga minyak dapat memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga, yang biasanya meningkatkan daya tarik dolar AS dibandingkan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Namun, kondisi tersebut belum membuat emas terkoreksi signifikan. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor penyangga permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
“Ketahanan emas menunjukkan investor masih membutuhkan perlindungan terhadap risiko global,” ujar Gunawan.
Perdagangan selanjutnya akan mencermati perkembangan proses pencalonan Gubernur BI, arah kebijakan moneter, pergerakan dolar AS serta perkembangan harga minyak. Kombinasi faktor tersebut akan menentukan apakah penguatan rupiah mampu dipertahankan di tengah tekanan eksternal yang masih cukup tinggi.
