Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin
Medan Insight

Erupsi Sinabung Mereda, Harga Pangan Masih Tinggi

  • Kenaikan juga mulai terlihat pada gula pasir. Data PIHPS menunjukkan harga komoditas tersebut di Pusat Pasar Medan meningkat sekitar Rp250 per kilogram
Medan Insight
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

MEDAN – Aktivitas erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo mulai mereda, tidak lagi memuntahkan awan panas dalam jumlah signifikan. Meski statusnya masih Level 3 (Siaga), kondisi tersebut belum berdampak terhadap harga pangan di Kota Medan yang masih menunjukkan tekanan, terutama pada komoditas sayuran.

Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Pasar Petisah berada di kisaran Rp56 ribu per kilogram. Dalam beberapa hari terakhir, nilainya relatif stabil. Cabai rawit juga masih bertahan sekitar Rp60 ribu per kilogram.

Cabai caplak merah justru mengalami lonjakan. Komoditas tersebut sebelumnya berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram, tetapi kini telah mencapai Rp78 ribu per kilogram. Harga tomat turut bergerak naik dari sekitar Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai perkembangan harga pangan pada September perlu menjadi perhatian pemerintah karena sejumlah komoditas mulai memberikan tekanan terhadap inflasi.

“Gejolak pangan perlu diantisipasi sejak awal agar tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas,” katanya, Rabu (9/9/2026).

Kenaikan juga mulai terlihat pada gula pasir. Data PIHPS menunjukkan harga komoditas tersebut di Pusat Pasar Medan meningkat sekitar Rp250 per kilogram. Meski belum merata di seluruh pasar, kondisi itu dinilai berpotensi meluas apabila pasokan dan distribusi mengalami gangguan.

Selain cabai dan gula pasir, daging ayam serta beras masih berada pada level harga yang relatif tinggi. Minyak goreng juga berpotensi mengalami kenaikan seiring harga crude palm oil (CPO) yang kini berada di sekitar 4.978 ringgit per ton.

Harga CPO bahkan berpeluang kembali menguji level 5.000 ringgit per ton seperti yang sempat dicapai pada akhir Agustus. Pergerakan tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak goreng di pasar domestik.

Gunawan mengingatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Utara untuk memperkuat antisipasi terhadap gangguan pasokan dan distribusi. Menurutnya, kondisi pangan saat ini cukup rentan terhadap perubahan cuaca maupun bencana alam.

Ancaman kekeringan akibat musim kemarau panjang juga menjadi perhatian karena dapat mengganggu produksi sejumlah komoditas pertanian. Apabila penurunan produksi terjadi bersamaan dengan hambatan distribusi, pasokan di pasar dapat berkurang dan mendorong harga semakin tinggi.

“Risiko terbesar bukan hanya harga hari ini, melainkan gangguan produksi yang bisa mengurangi pasokan beberapa waktu ke depan,” katanya.