
Harga Ayam Terus Naik, Inflasi Agustus Terancam Meningkat
- Rata-rata harga daging ayam di Sumut naik dari Rp48.550 per kilogram pada 17 Agustus 2026 menjadi sekitar Rp52.400 per kilogram dalam sepekan terakhir
Medan Insight
MEDAN – Harga daging ayam di Sumatera Utara terus menunjukkan tren kenaikan sepanjang sepekan terakhir. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi Agustus 2026, meski permintaan masyarakat saat ini tidak mengalami peningkatan signifikan.
Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga daging ayam di Sumut naik dari Rp48.550 per kilogram pada 17 Agustus 2026 menjadi sekitar Rp52.400 per kilogram dalam sepekan terakhir.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan kenaikan harga tersebut tidak lagi semata-mata disebabkan oleh peningkatan permintaan.
“Tren kenaikannya belum terputus dan berpotensi memberi tekanan pada inflasi Agustus,” katanya, Minggu (23/8/2026).
- Kuasa Hukum Dhody Thahir Bantah Tudingan Pemalsuan Surat
- BI Rate Ditahan 5,75%, Nasib KPR, Deposito dan Rupiah Jadi Sorotan
- 8 Langkah Penting untuk Lindungi Diri Saat Kabut Asap Melanda
Ia mencontohkan, harga daging ayam di tingkat konsumen pada salah satu pedagang sempat berada di kisaran Rp28.000 per kilogram ketika periode libur panjang sekolah. Namun, saat ini harga di pedagang yang sama telah mencapai sekitar Rp42.000 per kilogram.
Bahkan, berdasarkan data PIHPS pada akhir pekan sebelumnya, harga daging ayam tertinggi di Sumut tercatat mencapai Rp69.000 per kilogram di Gunungsitoli, Nias.

Menurut Gunawan, salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah meningkatnya biaya produksi, khususnya harga pakan ternak. Dari pemantauan di lapangan, harga pakan dalam sebulan terakhir mengalami kenaikan hingga sekitar Rp500 per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi seiring harga jagung yang masih bertahan di atas Rp6.000 per kilogram. Kondisi ini dinilai cukup berbeda dibandingkan dua tahun terakhir, ketika harga jagung saat musim panen serentak dapat turun hingga sekitar Rp4.700 per kilogram.
“Yang perlu dicermati sekarang adalah tekanan dari sisi biaya produksi peternak,” ujarnya.
Selain harga pakan, kenaikan biaya berbagai input produksi juga ikut dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan pasokan karena peternak berpotensi mengurangi jumlah ayam hidup yang dipasarkan.
Sementara itu, permintaan daging ayam segar saat ini masih didominasi kebutuhan rumah tangga. Permintaan juga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta sektor usaha kuliner.
Gunawan menilai kombinasi antara kenaikan biaya produksi dan potensi penurunan pasokan perlu menjadi perhatian. Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir bulan, daging ayam berpeluang memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi, baik secara nasional maupun khusus di Sumut.
