Harga daging ayam ras terus melonjak usai libur sekolah
Medan Insight

Harga Daging Ayam Melonjak

  • Peternak sebenarnya memiliki alternatif untuk mempercepat produksi dengan menetaskan lebih banyak bibit menjadi FS. Namun, langkah tersebut memiliki risiko...
Medan Insight
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

MEDANHarga daging ayam ras yang terus meningkat mulai menjadi perhatian masyarakat. Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam secara nasional kini rata-rata telah berada di atas Rp40 ribu per kilogram.

Kenaikan tersebut dinilai cukup signifikan, terutama setelah masa libur sekolah berakhir. Permintaan kembali meningkat seiring kebutuhan masyarakat, termasuk untuk memenuhi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di sejumlah daerah, kenaikan harga bahkan terlihat cukup tajam. Di salah satu pasar tradisional di Deli Serdang, misalnya, harga daging ayam sempat berada di kisaran Rp28 ribu per kilogram ketika libur sekolah. Kini harga komoditas tersebut telah mencapai sekitar Rp39 ribu per kilogram.

Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya rumah tangga, mulai khawatir harga daging ayam akan bertahan pada level tinggi dalam waktu lama.

Namun, kenaikan tersebut dinilai masih berpeluang berbalik arah apabila pasokan ayam hidup dapat ditingkatkan. Lonjakan permintaan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga, selain meningkatnya biaya bahan baku pakan.

Untuk memperbesar pasokan dalam jangka panjang, salah satu langkah penting adalah meningkatkan Grand Parent Stock (GPS) atau bibit dasar dalam rantai pembibitan ayam.

GPS merupakan tingkatan tertinggi dalam sistem pembibitan. Dari GPS dihasilkan Parent Stock (PS), yang selanjutnya menghasilkan Final Stock (FS) atau ayam yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

Karena itu, peningkatan pasokan ayam tidak bisa dilakukan secara instan. Penambahan GPS membutuhkan perencanaan sejak tingkat pembibitan hingga menghasilkan ayam siap dipasarkan.

“Kalau ingin harga kembali normal, kuncinya tetap pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan,” ujar pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, pemerintah telah melakukan penambahan GPS dan dampaknya terhadap ketersediaan pasokan diperkirakan mulai lebih terasa pada 2027.

Peternak sebenarnya memiliki alternatif untuk mempercepat produksi dengan menetaskan lebih banyak bibit menjadi FS. Namun, langkah tersebut memiliki risiko karena proses seleksi bibit menjadi kurang optimal.

Kualitas FS yang tidak terseleksi secara ketat dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut justru berpotensi menimbulkan persoalan baru bagi peternak maupun industri perunggasan.

Karena itu, penambahan kapasitas produksi harus dilakukan secara terencana dengan memperhitungkan kebutuhan indukan, ketersediaan pakan dan kemampuan industri pembibitan.

Peluang penurunan harga daging ayam ke depan juga sangat dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari jumlah ayam hidup yang tersedia, harga pakan, nilai tukar rupiah, konsistensi permintaan hingga biaya input produksi.

Gunawan memperkirakan, jika penambahan GPS berjalan sesuai rencana dan pasokan ayam mulai meningkat, harga daging ayam berpeluang kembali turun secara bertahap.

“Saya melihat ruang penurunan masih terbuka, tetapi waktunya sangat bergantung pada realisasi tambahan pasokan,” katanya.

Berdasarkan proyeksinya, harga daging ayam berpotensi berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram dalam enam bulan mendatang, dengan catatan tidak terjadi lonjakan baru pada biaya produksi maupun permintaan.

Strategi penguatan pasokan tersebut, lanjutnya, juga relevan untuk komoditas telur ayam. Sebab, persoalan harga kedua komoditas tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perencanaan pembibitan dan ketersediaan pasokan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, kenaikan harga ayam saat ini tidak serta-merta menunjukkan kondisi pasokan yang akan permanen. Jika peningkatan kapasitas pembibitan mulai menghasilkan tambahan ayam secara signifikan, tekanan harga di tingkat konsumen berpeluang mereda secara bertahap.