
Hasto Ajak Tokoh Samosir Rawat Indonesia sebagai Rumah Bersama
- “Dari Samosir ini mari kita gelorakan semangat untuk memuliakan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, memperjuangkan keadilan dan juga kebenaran dengan berpihak kepada yang miskin..”
Medan Insight
sumatrakini.com – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Samosir bersama-sama merawat Indonesia sebagai rumah bersama dengan membumikan nilai agama, Pancasila, kemanusiaan dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu disampaikan Hasto dalam Silaturahmi Kebangsaan bersama Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Samosir di Hotel Grand Dainang, Kabupaten Samosir.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Hasto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat dan rombongan ke Kabupaten Samosir. Sebelumnya, rombongan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Samosir.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Rapidin Simbolon mengatakan pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat Samosir dalam semangat kebangsaan.
- Hasto Kristiyanto: Kantor PDI Perjuangan Samosir Harus Jadi Rumah Rakyat
- Gempa M7,7 Guncang NTT, 14 Orang Meninggal Dunia
- Gempa M7,7 Guncang Nagekeo, Dua Orang Dikabarkan Meninggal Dunia
“Di sini berkumpul yang disebut dengan kebangsaan. Dari berbagai unsur masyarakat, ada yang HKBP, ada yang Katolik, ada sahabat, ada masyarakat petani, semua lengkap,” ujar Rapidin, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, keberagaman latar belakang peserta menjadi gambaran kehidupan masyarakat Samosir yang dapat terus dirawat melalui komunikasi dan kebersamaan.
Dalam kesempatan itu, Hasto mengingatkan bahwa kehidupan beragama tidak cukup berhenti pada ritual. Nilai spiritual harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, karya yang bermanfaat dan keberanian memperjuangkan kemanusiaan.
“Doa itu penting sebagai spiritualitas bagi kita, tapi doa harus membumi, doa harus menjadi amal kemanusiaan, doa harus menciptakan karya,” kata Hasto.
Hasto juga menceritakan pengalaman spiritualnya selama menjalani masa tahanan. Ia mengaku banyak melakukan refleksi dengan membaca kisah para nabi dan kitab suci serta berdialog dengan tokoh-tokoh agama dari berbagai latar belakang.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan adanya nilai-nilai universal dalam berbagai agama, seperti kemanusiaan, pengampunan, perjuangan menghadapi ujian dan keberpihakan terhadap kebenaran.
Karena itu, perbedaan keyakinan, kata Hasto, tidak semestinya menjadi sumber pertentangan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan moral apabila dibangun melalui dialog dan saling menghormati.
Hasto juga mengingatkan perjalanan sejarah Indonesia yang tumbuh dari perjumpaan berbagai kebudayaan dan keyakinan. Pancasila kemudian menjadi titik temu yang menaungi seluruh warga negara.

“Indonesia ini dibangun untuk semua, bukan untuk satu kelompok tertentu,” tegasnya.
Menurut Hasto, prinsip Indonesia sebagai rumah bersama harus terus dijaga melalui dialog, keteladanan dan keberanian memperjuangkan hak setiap warga negara. Kebebasan beragama, lanjutnya, bukan hanya perjuangan satu kelompok agama, melainkan tanggung jawab bersama sebagaimana dijamin konstitusi.
Ia juga mendorong tokoh agama mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan pesan moral agama untuk menjawab persoalan nyata masyarakat, termasuk kemiskinan, ketimpangan, persoalan lingkungan dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Dari pembahasan kebangsaan tersebut, Hasto kemudian mengajak masyarakat Samosir memikirkan masa depan Danau Toba. Menurutnya, kawasan Danau Toba merupakan anugerah alam yang harus dijaga dengan visi lintas generasi.
Ia mengajak masyarakat dan pemerintah membayangkan kondisi Samosir dalam 100 tahun mendatang. Visi tersebut, menurut Hasto, harus diwujudkan melalui tata ruang yang mampu menjaga keseimbangan antara pertanian, hutan, sungai, permukiman, pariwisata dan ruang publik.
“Ke depan mari kita beri imajinasi 100 tahun ke depan Samosir ini bagaimana. Ini harus ada tata ruang. Mana tempat-tempat pertanian yang harus kita lindungi, tempat untuk wisata yang harus kita jaga kelestariannya, sungai-sungai sebagai jalan peradaban, hutan-hutan yang hijau sebagai sumber oksigen kehidupan,” tuturnya.
Hasto menilai pelestarian Danau Toba tidak hanya menyangkut persoalan lingkungan, tetapi juga tanggung jawab antargenerasi. Persoalan sampah, pendangkalan, tata ruang hingga sistem transportasi perlu dikelola secara serius agar Danau Toba tetap menjadi sumber kehidupan sekaligus destinasi wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mendorong pengembangan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama. Peningkatan keterampilan, kemampuan bahasa asing serta pemahaman terhadap potensi budaya dan alam dinilai penting agar masyarakat Samosir tidak sekadar menjadi penonton pertumbuhan pariwisata.
Menutup pertemuan, Hasto mengajak seluruh tokoh agama dan masyarakat Samosir terus memberikan energi positif bagi bangsa tanpa menjadikan perbedaan pilihan politik, agama, suku maupun latar belakang sebagai alasan untuk saling menjauh.
“Dari Samosir ini mari kita gelorakan semangat untuk memuliakan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, memperjuangkan keadilan dan juga kebenaran dengan berpihak kepada yang miskin, yang terpinggirkan, dan yang diperlakukan tidak adil,” pungkas Hasto.
