
IHSG Anjlok 11,57 Persen, Waspadai Rupiah dan Stabilitas Ekonomi
- “Pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan tekanan lanjutan terhadap rupiah. Jangan sampai persoalan di pasar saham berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap likuiditas...”
Ekonomi & Pariwisata
MEDAN – Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 11,57 persen pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Pelemahan bursa saham yang dipicu kekhawatiran perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menekan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan di pasar saham berpotensi merembet ke sektor keuangan lainnya, terutama pasar valuta asing dan surat utang. Situasi ini perlu diwaspadai karena arus keluar modal asing dapat memperlemah rupiah sekaligus mengurangi likuiditas di pasar keuangan domestik.
Pada perdagangan Jumat, IHSG sempat dihentikan sementara melalui mekanisme trading halt setelah dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92. Tekanan jual berlanjut sepanjang perdagangan hingga indeks menyentuh level terendah sekaligus penutupan di 5.185, dengan penurunan 11,57 persen.
- Run to Give 2026 di Medan, Lari 5 Kilometer untuk Bantu Akses Air Bersih
- Bapenda Sumut Gelar Operasi Sadar Pajak Kendaraan
- Banjir Rendam 90 Rumah di Simalungun, 128 KK Terdampak
Koreksi tersebut terjadi setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas proposal perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Wacana itu memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia dan kemungkinan berkurangnya aliran investasi asing.
Menurut Gunawan, dampak perubahan klasifikasi tersebut tidak hanya perlu dilihat dari pergerakan indeks saham, tetapi juga dari potensi tekanan terhadap instrumen keuangan lainnya.
“Pasar saham dan pasar surat utang memiliki peran saling menopang likuiditas. Jika salah satunya kehilangan kepercayaan investor, kemampuan sektor keuangan dalam menyerap tekanan bisa semakin terbatas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, potensi arus keluar modal asing menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Jika investor asing mengurangi kepemilikannya di pasar saham Indonesia, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. Situasi itu berpotensi semakin berat apabila pasar obligasi domestik juga menghadapi tekanan jual.
Pada penutupan perdagangan Jumat, rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS setelah sempat melemah hingga kisaran Rp18.060. Sehari sebelumnya, Kamis, 15 Oktober 2026, rupiah ditutup di level Rp17.920 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp17.955.
Pelemahan rupiah berlangsung di tengah memburuknya sentimen pasar global. Data inflasi produsen Amerika Serikat atau Producer Price Index (PPI) September 2026 tercatat naik 1,3 persen secara bulanan. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan mencapai 199 ribu, sedangkan penjualan ritel Amerika Serikat meningkat 0,8 persen secara bulanan.
Perkembangan tersebut turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga membuat investor semakin berhati-hati dalam mengelola aset keuangan.
Gunawan menilai kombinasi tekanan dari pasar saham, pasar obligasi global, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik dapat mempersempit ruang stabilisasi rupiah. Jika imbal hasil surat utang meningkat, pemerintah juga berpotensi menghadapi biaya pembiayaan yang lebih tinggi.

“Pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan tekanan lanjutan terhadap rupiah. Jangan sampai persoalan di pasar saham berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap likuiditas dan stabilitas sektor keuangan,” kata Gunawan.
Ia menambahkan, Bank Indonesia perlu terus mencermati pergerakan rupiah dan kondisi likuiditas pasar. Langkah stabilisasi menjadi penting untuk mencegah gejolak pasar keuangan berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian.
Di tengah situasi tersebut, pergerakan harga emas dunia juga menunjukkan volatilitas. Pada Kamis, 15 Oktober 2026, emas diperdagangkan di sekitar US$4.158 per troy ounce. Sehari kemudian, harga emas mengalami pergerakan yang berfluktuasi seiring perubahan ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada Kamis (15/10/2026), IHSG telah ditutup melemah 1,33 persen ke level 5.863,78. Indeks sempat menyentuh 5.804 sebelum mengurangi sebagian penurunannya. Pada hari yang sama, rupiah juga melemah, sedangkan emas dunia masih bertahan di zona positif.
Rangkaian pelemahan tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap pasar keuangan domestik. Perkembangan selanjutnya akan dipengaruhi oleh respons otoritas, kepastian kebijakan MSCI, serta perubahan sentimen investor global.
Bagi pemerintah, tantangan utamanya bukan hanya menjaga indeks saham dari gejolak jangka pendek, melainkan memastikan kepercayaan investor tetap terpelihara dan tekanan terhadap rupiah tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
