
IHSG Anjlok 3,78 Persen, Rupiah Bertahan Menguat Tipis di Tengah Tekanan Pasar
- “Pergerakan rupiah saat ini perlu dicermati karena tekanan dari pasar obligasi dapat berlanjut ke pasar valuta asing. Stabilitas nilai tukar menjadi penting agar gejolak...”
Medan Insight
MEDAN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. Indeks saham domestik ditutup melemah 3,78 persen ke level 4.904,29, lebih dalam dibandingkan sejumlah bursa saham Asia. Di tengah tekanan tersebut, nilai tukar rupiah justru menguat tipis ke posisi Rp18.135 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia masih cukup besar. Sentimen negatif dari dalam negeri, terutama kekhawatiran terhadap evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG.
Pada perdagangan hari ini, IHSG sempat mencoba berbalik arah setelah bergerak di bawah level psikologis 5.000. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama. Indeks kembali tertekan aksi jual hingga menyentuh level terendah 4.895 sebelum akhirnya ditutup di posisi 4.904,29.
- PGN Perkuat Bisnis Energi Rendah Karbon, Emisi Turun 29.574 Ton CO₂
- Dampak Kebakaran Hutan Tak Main-Main, Kerugian RI Capai Rp565 Triliun
- Update Harga Emas Antam 3 November 2026, Ini Data dan Insight Terbarunya
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG kehilangan 192,54 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Indeks sempat dibuka menguat di area 5.126, tetapi kemudian berbalik melemah dan menembus level 5.000 menjelang pukul 11.00 WIB.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Sebanyak 624 saham ditutup melemah, sementara hanya 57 saham menguat dan 37 saham stagnan. Nilai transaksi perdagangan mencapai sekitar Rp11,55 triliun dengan volume 26,78 miliar saham.
Sektor barang baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 6 persen. Sektor energi melemah 4,38 persen, transportasi turun 3,9 persen, sedangkan sektor keuangan terkoreksi 2,07 persen. Seluruh 11 sektor saham yang tercatat di BEI mengalami penurunan.
Gunawan mengatakan tekanan pasar tidak bisa dilepaskan dari kombinasi ketidakpastian global dan persoalan domestik. Ancaman evaluasi MSCI, ketidakstabilan geopolitik, serta aksi demonstrasi di dalam negeri turut memperburuk sentimen investor.
Ketidakpastian geopolitik juga meningkat setelah Amerika Serikat menyerang wilayah Iran menjelang dialog antara kedua negara. Situasi tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, tekanan jual pada surat utang di sejumlah negara besar turut menjadi perhatian. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan modal dan meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, rupiah masih mampu mencatatkan penguatan terbatas. Mata uang Indonesia ditutup di level Rp18.135 per dolar AS, meskipun tekanan dari pasar obligasi berpotensi memicu pelemahan lebih lanjut.
Gunawan memperkirakan Bank Indonesia turut berperan dalam menjaga stabilitas rupiah melalui langkah-langkah intervensi di pasar valuta asing.
“Pergerakan rupiah saat ini perlu dicermati karena tekanan dari pasar obligasi dapat berlanjut ke pasar valuta asing. Stabilitas nilai tukar menjadi penting agar gejolak di pasar keuangan tidak semakin membebani perekonomian domestik,” ujar Gunawan, Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, harga emas dunia juga mengalami pelemahan. Emas diperdagangkan di kisaran US$3.903 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,28 juta per gram berdasarkan konversi harga yang disampaikan Gunawan.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan masih berada dalam kondisi yang rentan terhadap perubahan sentimen. Investor menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari persoalan domestik hingga ketidakpastian geopolitik global.
Dalam kondisi tersebut, perkembangan evaluasi MSCI dan stabilitas geopolitik menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati untuk melihat arah pasar keuangan Indonesia pada perdagangan berikutnya.
