IHSG ditutup melemah
Ekonomi & Pariwisata

IHSG Melemah, Rupiah Bertahan di Tengah Defisit Neraca Dagang

  • "Turunnya cadangan devisa memberi sinyal bahwa stabilisasi rupiah membutuhkan upaya yang lebih besar dari Bank Indonesia. Itu yang menjadi perhatian utama investor"
Ekonomi & Pariwisata
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

MEDAN – Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan awal pekan dengan pergerakan yang berbeda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah, sementara nilai tukar rupiah masih mampu menguat tipis meski dibayangi defisit neraca perdagangan dan penurunan cadangan devisa.

IHSG ditutup melemah 0,03 persen ke level 6.234,497, setelah bergerak di kisaran 6.212 hingga 6.273 sepanjang perdagangan, Senin (3/8/2026). Pelemahan terjadi seiring mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga bergerak negatif di tengah minimnya sentimen baru dari pasar global. 

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi penekan indeks, di antaranya BBCA, BBRI, BMRI, TINS, INDY, dan ASII.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan pergerakan IHSG menunjukkan investor masih memilih bersikap hati-hati meskipun sejumlah indikator ekonomi domestik sebenarnya menunjukkan perkembangan yang positif.

"Pasar saat ini lebih sensitif terhadap risiko dibandingkan kabar baik. Karena itu, sentimen negatif lebih cepat memengaruhi keputusan investor," ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 50,2, sementara inflasi pada Juli mencatat deflasi 0,14 persen yang menandakan tekanan harga mulai mereda.

Namun, optimisme tersebut tertahan setelah Bank Indonesia melaporkan penurunan cadangan devisa sebesar US$11 miliar. Pada saat yang sama, neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat defisit sebesar US$450 juta.

Menurut Gunawan, kombinasi kedua data tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan masih besarnya tekanan terhadap sektor eksternal.

"Turunnya cadangan devisa memberi sinyal bahwa stabilisasi rupiah membutuhkan upaya yang lebih besar dari Bank Indonesia. Itu yang menjadi perhatian utama investor," katanya.

Di tengah sentimen tersebut, nilai tukar rupiah justru mampu ditutup menguat di level Rp17.980 per dolar Amerika Serikat, meski pada sesi perdagangan sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS.

Gunawan menilai kemampuan rupiah bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS menunjukkan pasar masih memiliki kepercayaan terhadap langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter.

"Rupiah masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar belum hilang meskipun tekanan eksternal masih cukup besar," jelasnya.

Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif stabil di kisaran US$4.051 per troy ons, dengan harga emas domestik berada di sekitar Rp2,35 juta per gram.

Gunawan memperkirakan pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan data ekonomi global maupun domestik dalam beberapa hari ke depan, terutama yang berkaitan dengan nilai tukar, perdagangan internasional, dan arah kebijakan Bank Indonesia.

"Selama belum ada katalis positif yang kuat, pasar berpeluang bergerak fluktuatif. Investor akan tetap mengedepankan sikap selektif dalam mengambil keputusan," pungkasnya.