Ilustrasi Rupiah
Ekonomi & Pariwisata

IHSG Menguat 1,37 Persen, Rupiah Masih Tertekan di Tengah Ketidakpastian

  • "Pergerakan rupiah menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap perkembangan di dalam negeri. Selama ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter dan kondisi eksternal..."
Ekonomi & Pariwisata
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

MEDANIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan, Selasa (4/8/2026), di zona hijau dengan kenaikan 1,37 persen ke level 6.319,613. Penguatan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga mencatatkan penguatan, didorong membaiknya sentimen investor di kawasan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi motor penguatan indeks, di antaranya saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, serta TLKM. Meski sentimen domestik masih terbatas, aksi beli pada saham-saham unggulan berhasil mendorong IHSG mengakhiri perdagangan dengan kenaikan yang cukup signifikan.

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai penguatan IHSG lebih dipengaruhi oleh sentimen regional dibandingkan faktor fundamental dari dalam negeri.

"Penguatan IHSG menunjukkan minat investor mulai kembali ke aset berisiko setelah bursa Asia bergerak positif. Namun, penguatan ini belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya kondisi domestik karena sentimen internal masih relatif terbatas," ujarnya.

Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda konsisten berada di zona merah dan ditutup melemah di level Rp18.015 per dolar Amerika Serikat, setelah sempat menyentuh Rp18.045 per dolar AS.

Menariknya, pelemahan rupiah terjadi ketika US Dollar Index justru bergerak di bawah level 100, yang umumnya menjadi faktor pendukung bagi mata uang negara berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor domestik.

Menurut Gunawan, pelaku pasar masih mencermati proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan. Selain itu, memburuknya neraca perdagangan juga menjadi faktor yang mempersempit ruang penguatan rupiah.

"Pergerakan rupiah menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap perkembangan di dalam negeri. Selama ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter dan kondisi eksternal belum mereda, volatilitas rupiah diperkirakan tetap tinggi dengan kecenderungan melemah," katanya.

Ia menambahkan, meningkatnya tensi geopolitik global turut memperbesar risiko terhadap perekonomian nasional. Ancaman pelebaran defisit transaksi perdagangan maupun tekanan terhadap arus modal membuat mata uang rupiah masih sulit keluar dari tekanan dalam jangka pendek.

Sementara itu, aset lindung nilai kembali menjadi pilihan investor. Harga emas dunia pada perdagangan Selasa diperdagangkan menguat ke kisaran US$4.060 per troy ons, atau setara sekitar Rp2,36 juta per gram, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap instrumen yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian pasar.

Gunawan menilai, selama sentimen global dan domestik belum menunjukkan perubahan yang signifikan, pasar keuangan Indonesia masih akan bergerak fluktuatif. Investor diperkirakan tetap menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan perkembangan kondisi geopolitik sebelum meningkatkan eksposur pada aset berisiko.