
Inflasi Sumut Diproyeksi Berlanjut, Daya Beli ASN Berisiko Tertekan
- "Tekanan inflasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pergeseran terjadi pada komoditas penyumbangnya. Jika harga daging ayam, minyak goreng, dan gula terus naik secara bersamaan..."
Ekonomi & Pariwisata
MEDAN – Laju inflasi di Sumatra Utara diperkirakan masih berlanjut sepanjang Agustus 2026. Sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam, telur ayam, minyak goreng, dan gula pasir diproyeksi menjadi penyumbang utama kenaikan harga, meski tekanan dari komoditas beras diperkirakan mulai mereda.
Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan inflasi pada Juli 2026 menjadi sinyal bahwa tekanan harga bahan pangan masih cukup kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumut mencatat inflasi bulanan atau month to month sebesar 0,19 persen. Kenaikan didorong naiknya harga cabai rawit, beras, dan tomat, sementara cabai merah serta telur ayam sempat menjadi penyumbang deflasi.
Memasuki Agustus, menurut Gunawan, struktur inflasi diperkirakan berubah. Harga daging ayam yang meningkat sejak pertengahan Juli diproyeksikan masih bertahan di kisaran Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram, sehingga tetap memberikan tekanan terhadap inflasi.
- DPRD Sumut Soroti Absennya Bobby Nasution di Pembukaan dan Penutupan PRSU
- Gurita Bisnis Low Tuck Kwong, Raja Batu Bara Pemilik BYAN yang Jarang Disorot
- Dampak El Nino Naikkan Harga Pangan
"Tekanan inflasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pergeseran terjadi pada komoditas penyumbangnya. Jika harga daging ayam, minyak goreng, dan gula terus naik secara bersamaan, maka laju inflasi Sumatera Utara berpotensi lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya," ujar Gunawan, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, harga beras diperkirakan cenderung stabil sehingga kontribusinya terhadap inflasi relatif netral. Namun, minyak goreng berpotensi mengalami kenaikan seiring meningkatnya biaya produksi yang dipengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia. Sementara itu, harga gula pasir diperkirakan terus meningkat setelah musim panen berakhir dan biaya produksi mengalami kenaikan.

Menurut Gunawan, ancaman inflasi juga tidak hanya berasal dari kondisi di Sumatera Utara. Gangguan produksi pangan di daerah lain akibat fenomena El Nino dapat memicu kenaikan harga secara nasional yang pada akhirnya ikut memengaruhi pasar di Sumut.
"Meskipun kondisi produksi pangan di Sumut relatif lebih baik, daerah ini tidak sepenuhnya kebal terhadap gejolak harga nasional. Ketika terjadi disparitas harga antarwilayah, mekanisme pasar akan membentuk keseimbangan baru yang tetap berdampak pada konsumen di Sumut," katanya.
Karena itu, ia meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) memperkuat koordinasi, terutama dalam menjaga kelancaran distribusi pangan, memperluas operasi pasar, dan memastikan pasokan komoditas strategis tetap tersedia selama Agustus.
Di sisi lain, Gunawan menyoroti kabar mengenai keterlambatan pembayaran gaji aparatur sipil negara (ASN) yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperburuk kemampuan belanja rumah tangga apabila terjadi bersamaan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.
"Ketika inflasi meningkat sementara pendapatan masyarakat mengalami gangguan, kemampuan konsumsi otomatis melemah. Rumah tangga berpotensi mengalami arus kas negatif karena pengeluaran terus berjalan, sedangkan penerimaan tertunda. Kondisi seperti ini perlu diantisipasi agar tidak menekan daya beli masyarakat lebih dalam," ujarnya.
Gunawan menambahkan, menjaga stabilitas harga dan memastikan kelancaran pembayaran pendapatan masyarakat merupakan dua faktor penting untuk mempertahankan konsumsi rumah tangga. Mengingat konsumsi masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Sumut, tekanan terhadap daya beli berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi apabila tidak segera diantisipasi.
