
Inflasi Sumut Melandai, Cabai dan Beras Jadi Ancaman Oktober
- "Efek panen terhadap harga beras masih perlu ditunggu. Kalau penurunannya terbatas, ruang untuk meredam kenaikan harga komoditas lain juga semakin kecil"
Medan Insight
MEDAN - Tekanan inflasi di Sumatera Utara pada September 2026 relatif terkendali. Inflasi Kota Medan hanya mencapai 0,04 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan inflasi Sumut yang tercatat 0,14 persen.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan rendahnya inflasi di sejumlah daerah tidak terlepas dari pola distribusi komoditas pangan, terutama cabai merah. Labuhanbatu dan Pematangsiantar, misalnya, masing-masing mencatat inflasi 0,13 persen dan 0,16 persen secara bulanan.
Menurut dia, Labuhanbatu memiliki keuntungan dari akses pasokan cabai kotak yang sebagian juga mengalir ke Pasar Induk Lau Cih, Medan. Dengan cakupan pasar yang lebih kecil, kenaikan harga pada setiap mata rantai distribusi di wilayah tersebut relatif lebih terbatas.
Kondisi berbeda terjadi di Pematangsiantar. Wilayah ini mendapat dukungan pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi cabai di sekitarnya. Sementara Medan dan Deliserdang memiliki pola distribusi yang relatif berdekatan.
- Rupiah dan IHSG Berbeda Arah, Geopolitik Jadi Sorotan
- AFPI Susun Arah Baru, Tata Kelola Hingga Advokasi Jadi Fokus 2026-2029
- Medkes Hadirkan Dukungan Terintegrasi bagi Pelaku Usaha Brand Kosmetik
"Rendahnya inflasi di Medan dan Deliserdang tidak lepas dari upaya pengendalian harga yang dilakukan secara bersama," kata Gunawan, Senin (5/10/2026).
Ia menilai pengendalian inflasi pangan tidak cukup mengandalkan operasi pasar atau intervensi jangka pendek. Pemerintah perlu memperkuat kemitraan antara petani dan pedagang melalui skema kerja sama antardaerah (KAD).
Kemitraan tersebut, kata dia, perlu diarahkan agar kebutuhan komoditas pertanian Sumatera Utara terlebih dahulu dipenuhi dari produksi dalam provinsi sebelum pasokan dikirim ke daerah lain.

"Yang perlu diperkuat adalah kepastian pasar bagi petani sekaligus kepastian pasokan bagi daerah konsumen," ujarnya.
Tantangan pengendalian inflasi pada Oktober diperkirakan lebih berat. Harga cabai masih bergerak fluktuatif dan sempat menembus Rp100 ribu per kilogram pada awal bulan. Kondisi tersebut menjadi sinyal tekanan baru terhadap kelompok makanan, terutama jika gangguan cuaca menghambat produksi dan distribusi di sejumlah daerah.
Di sisi lain, beras yang semestinya menjadi penyeimbang kenaikan harga cabai belum memberikan kontribusi deflasi yang berarti. Padahal, Sumatera Utara telah memasuki periode panen padi.
Gunawan mengatakan harga beras yang belum turun secara signifikan membuat manfaat musim panen terhadap pengendalian inflasi belum sepenuhnya terasa. Kondisi itu membuat tekanan dari komoditas pangan masih menjadi perhatian pada Oktober.
"Efek panen terhadap harga beras masih perlu ditunggu. Kalau penurunannya terbatas, ruang untuk meredam kenaikan harga komoditas lain juga semakin kecil," katanya.
Menurut dia, tantangan lain berasal dari ketergantungan Sumatera Utara terhadap pasokan dari luar daerah. Ketika produksi atau distribusi di daerah pemasok terganggu, dampaknya dapat segera terasa pada harga pangan di Sumut.
Karena itu, penguatan produksi lokal dan kerja sama pasokan antardaerah dinilai penting agar pengendalian inflasi tidak hanya bersifat reaktif. Pemerintah juga perlu memastikan rantai distribusi pangan lebih efisien untuk mengurangi tekanan harga hingga tingkat konsumen.
