Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Indra Tarigan
Medan Insight

Kapan Mioma Harus Diangkat Bersama Rahim? Ini Penjelasan Dokter

  • “Tidak selalu harus angkat kandungan. Jika pasien masih ingin hamil, biasanya diupayakan miomektomi yaitu mengangkat miomanya saja”
Medan Insight
Fatimah Siregar

Fatimah Siregar

Author

MEDAN - Penanganan mioma uteri atau fibroid tidak selalu harus dilakukan dengan pengangkatan rahim atau histerektomi. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Indra Tarigan, menegaskan bahwa tindakan medis sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

“Tidak selalu harus angkat kandungan. Jika pasien masih ingin hamil, biasanya diupayakan miomektomi yaitu mengangkat miomanya saja,” kata Indra, Rabu (22/4/2026).

Namun demikian, dalam kondisi tertentu seperti ukuran mioma yang besar, jumlah yang banyak, atau gejala yang sudah berat, tindakan histerektomi menjadi pilihan paling aman bagi pasien.

Menurut Indra, ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan dokter sebelum menentukan tindakan, di antaranya ukuran dan jumlah mioma, lokasi pertumbuhan, usia pasien, keinginan memiliki anak, gejala yang dirasakan seperti nyeri, perdarahan, anemia, serta riwayat operasi sebelumnya.

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang tumbuh dari otot rahim. Meski bukan kanker, kondisi ini dapat menimbulkan keluhan serius apabila ukurannya besar atau jumlahnya banyak.

“Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi dipengaruhi hormon estrogen dan progesteron, faktor genetik, gaya hidup seperti obesitas, haid pertama terlalu dini dan belum pernah hamil,” katanya.

Gejala mioma pun bervariasi dan tidak selalu dirasakan oleh setiap penderita. Beberapa keluhan yang umum terjadi seperti menstruasi banyak dan berkepanjangan, nyeri haid hebat, perut terasa penuh atau membesar, sering buang air kecil akibat tekanan pada kandung kemih, nyeri saat berhubungan, hingga gangguan kesuburan.

“Banyak juga yang tidak sadar memiliki mioma sampai dilakukan pemeriksaan USG,” tambahnya.

Ia juga menyebut bahwa mioma merupakan kondisi yang cukup umum terjadi pada perempuan, meski tidak semua kasus menimbulkan gejala.
Berdasarkan letaknya, mioma dibagi menjadi beberapa jenis, yakni mioma submukosa yang tumbuh ke dalam rongga rahim dan sering menyebabkan perdarahan serta gangguan kesuburan. 

Mioma intramural yang tumbuh di dinding otot rahim dan paling sering ditemukan. Mioma subserosa yang tumbuh ke arah luar rahim dan dapat menekan organ sekitar, serta mioma bertangkai yang dapat menimbulkan nyeri jika terjadi puntiran.

Indra menekankan pentingnya pemeriksaan sejak dini dan konsultasi dengan dokter spesialis untuk menentukan penanganan yang tepat.

“Setiap kasus berbeda, tidak bisa di samaratakan. Yang penting adalah evaluasi menyeluruh sebelum menentukan terapi,” katanya.