BPBD Kabupaten Klaten mendistribusikan air bersih kepada warga di Desa Bawak, Desa Burikan dan Desa Krakitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih pasca dilanda kekeringan sejak Juni 2026
Nasional & Internasional

Klaten Krisis Air Bersih, 19.588 Jiwa Terdampak Kekeringan

  • “Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Kesiapan sebelum bencana terjadi sangat menentukan kemampuan mengurangi risiko dan melindungi keselamatan warga”
Nasional & Internasional
Mei-mei

Mei-mei

Author

sumatrakini.com – Kekeringan berkepanjangan yang melanda Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sejak Juni 2026 menyebabkan krisis air bersih di 15 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Sebanyak 19.588 jiwa atau 5.775 kepala keluarga (KK) terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Kamis, 5 November 2026, penanganan masih berlangsung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat kembali menyalurkan bantuan air bersih pada Rabu, 4 November 2026.

Tujuh tangki air setara 35.000 liter didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan 537 KK atau 1.314 jiwa. Penyaluran menjangkau tiga desa yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Desa Bawak menerima dua tangki air, Desa Burikan di Kecamatan Cawas memperoleh satu tangki, sedangkan Desa Krakitan di Kecamatan Bayat menerima dua tangki.

Berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, kekeringan yang berlangsung selama beberapa bulan tersebut dipicu musim kemarau berkepanjangan. Kondisi ini membuat pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat menjadi salah satu prioritas penanganan bencana di wilayah tersebut.

Selain kekeringan di Klaten, BNPB juga melaporkan perkembangan penanganan banjir di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Banjir yang terjadi pada Rabu, 28 Oktober 2026, berdampak pada tiga gampong atau desa, yakni Gampong Lhok Raya dan Cot Bayu di Kecamatan Trumon Tengah serta Gampong Padang Harapan di Kecamatan Trumon. Jumlah warga terdampak tercatat 222 KK atau 794 jiwa.

Berdasarkan laporan BPBD setempat pada Rabu, 4 November 2026, genangan yang sebelumnya merendam rumah warga berangsur surut. Meski demikian, tim gabungan masih bersiaga dan memantau perkembangan tinggi muka air di wilayah terdampak.

BPBD juga menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang masih mengungsi. Bantuan diberikan di dua lokasi pengungsian, yakni Kompi Brimob di Gampong Lhok Raya yang menampung 40 KK dan Masjid Cot Bayu di Gampong Cot Bayu dengan jumlah pengungsi sebanyak 18 KK.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah menjelang peralihan musim.

“Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Kesiapan sebelum bencana terjadi sangat menentukan kemampuan mengurangi risiko dan melindungi keselamatan warga,” ujar Berton dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 November 2026.

BNPB mengimbau pemerintah daerah bersama masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan membersihkan saluran air dan drainase secara gotong royong agar aliran air tetap lancar.

Kegiatan susur sungai untuk pemantauan juga perlu dilakukan di bawah pengawasan petugas BPBD dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Masyarakat diminta mengenali jalur evakuasi dan lokasi aman, serta menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan selama minimal tiga hari.

Sementara itu, pemeriksaan kondisi bendungan perlu dikoordinasikan dengan instansi berwenang dan dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi.

BNPB menekankan bahwa kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko serta meminimalkan dampak bencana, terutama di tengah perubahan kondisi cuaca yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.