SVP Marketing and Communications Kredivo, Indina Andamari
Medan Insight

Kredivo: PayLater Bukan Pinjol

  • Penggunaan PayLater di Medan menunjukkan tren positif, pertumbuhan pengguna sejak 2022-2024 mencapai 57,85 persen. Jumlah transaksi Kredivo di Medan pada 2024 naik 57,89 persen dibanding 2022, nilai transaksinya tumbuh signifikan hingga 87,34 persen
Medan Insight
Mei Leandha

Mei Leandha

Author

MEDAN - Layanan PayLater semakin diminati di berbagai daerah, sejalan dengan penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan secara nasional sebesar Rp8,56 triliun per Juni 2025. 

Data Kredivo mencatat, pengguna dari kota-kota tier dua dan tiga menyumbang 53,6 persen dari total pengguna pada 2023, menandakan akses keuangan digital semakin inklusif menyasar wilayah di
luar Jabodetabek.

Namun di balik tren positif tersebut, masih terdapat tantangan. Salah satu yang krusial adalah miskonsepsi yang menyamakan PayLater dengan pinjaman daring atau pinjol ilegal.

Minimnya pemahaman ini, termasuk soal hak dan kewajiban pengguna, kerap berujung pada keterlambatan bayar, skor SLIK yang buruk dan risiko terjebak pinjol ilegal. Padahal, jika digunakan dengan bijak, PayLater bisa menjadi alat bantu keuangan yang mendukung cash flow, menjaga daya beli dan membangun riwayat kredit formal.

“PayLater bukan pinjaman daring, apalagi pinjol ilegal. Sama seperti layanan kredit keuangan lainnya, jika digunakan dengan benar dan bijak, menjadi solusi keuangan yang memberi manfaat positif,” kata SVP Marketing and Communications Kredivo, Indina Andamari dalam Konferensi Pers: Kredivo Ungkap Mitos PayLater dan Potensinya di Berbagai Daerah secara virtual, Selasa (12/8/2025).

Sebagai pelopor layanan PayLater di Indonesia, Kredivo menegaskan bahwa ekspansi ke daerah bukan sekadar strategi bisnis, bagian dari komitmen membangun literasi keuangan digital yang merata. Sejalan dengan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong peningkatan
literasi keuangan inklusif di berbagai daerah. 

Melalui berbagai inisiatif seperti #AutoMikir,
#AndaiAndaPandai, Generasi Djempolan dan Kredicast, Kredivo aktif mengedukasi masyarakat mengenai literasi keuangan agar lebih bijak memanfaatkan PayLater. Edukasi tak hanya penting untuk pengguna, juga untuk memperkuat fondasi industri keuangan digital yang sehat dan
berkelanjutan, khususnya di luar Jabodetabek.

Pertumbuhan PayLater membuka peluang besar dalam memperluas akses kredit dan mendorong ekonomi lokal. Namun, minimnya literasi masyarakat terhadap cara kerja PayLater kerap memicu risiko, mulai dari penipuan hingga ketidaktahuan bahwa keterlambatan pembayaran bisa tercatat di SLIK dan berdampak pada skor kredit.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda mengungkapkan,
pertumbuhan PayLater di daerah menunjukkan masyarakat semakin mencari solusi keuangan yang relevan dengan kebutuhan: mudah diakses, cepat dan terjangkau. Ini sinyal positif bahwa gap layanan keuangan formal mulai terisi. Namun, pertumbuhan PayLater harus dijaga arahnya. Salah persepsi soal PayLater, risiko gagal bayar, hingga pencatatan negatif di SLIK adalah dampak serius yang perlu diantisipasi akibat rendahnya literasi masyarakat. 

“Kehadiran PayLater harus diiringi dengan sikap bijak menggunakan layanan teknologi finansial agar tidak merugikan diri sendiri. Edukasi terkait pinjam dengan bijak bukan sekadar pelengkap, namun menjadi kewajiban agar pertumbuhan ini sehat dan inklusif,” kata Huda.

Tumbuh pesat dengan tenor pendek dominasi transaksi di Medan

Penggunaan PayLater di Medan menunjukkan tren positif, pertumbuhan pengguna sejak 2022-2024 mencapai 57,85 persen. Jumlah transaksi Kredivo di Medan pada 2024 naik 57,89 persen dibanding 2022, nilai transaksinya tumbuh signifikan hingga 87,34 persen. Capaian ini
mencerminkan Medan merupakan salah satu pusat ekonomi digital terbesar di luar Jabodetabek, sekaligus menggambarkan tingginya kebutuhan masyarakat akan akses keuangan yang cepat, fleksibel
dan aman.

Adopsi PayLater di daerah bukan hanya soal akses kredit yang lebih mudah, juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi lokal. Ketika layanan ini dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif atau pengeluaran harian rumah tangga, efeknya bisa sangat terasa di tingkat daerah. Perekonomian di satu daerah bisa lebih cepat berputar ketika permodalan ataupun pembiayaan berada di jalur yang tepat.

"Supaya manfaatnya merata, literasi terkait finansial, teknologi, perlindungan konsumen di daerah juga harus jadi prioritas,” ujar Huda.

Menariknya, pemanfaatan tenor bayar dalam satu bulan dengan fasilitas bunga 0 persen mendominasi penggunaan Kredivo di Medan, dengan kenaikan 57 persen pada 2024 dibanding 2022. Tren ini mencerminkan
perilaku pengguna yang makin bijak dalam mengelola cash flow untuk kebutuhan harian tanpa membebani keuangan jangka panjang. Pilihan ini juga sejalan dengan strategi Kredivo dalam menyalurkan kredit secara proporsional dan bertanggung jawab.

“Medan memiliki potensi besar dalam adopsi layanan keuangan digital. Pertumbuhan pengguna Kredivo yang signifikan menjadi salah satu bukti. Inilah yang mendorong Kredivo memperluas jangkauan, memperkuat kerja sama dengan merchant lokal, dan menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Medan,” timpal Indina.

Untuk mendukung pertumbuhan ini, Kredivo aktif memperluas jangkauan layanannya ke kota-kota premium termasuk Medan, menyediakan limit Rp50 juta dan tenor cicilan hingga 24 bulan. Ekspansi juga diperkuat melalui kolaborasi dengan merchant offline lokal serta kampanye edukasi dan pemasaran yang relevan, termasuk menggandeng figur publik seperti Andre Taulany guna menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat secara luas dan inklusif.