
Mengelilingi Sumatra Utara dalam Hitungan Menit di PRSU
- Kami sangat mengharapkan kerja sama seluruh pihak meramaikan PRSU. Di sinilah harapan kita show off ke provinsi lain, kalau Sumut juga keren"
Medan Insight
MEDAN - Hari masih terik saat tiba di pelataran parkir Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kota Medan. Setelah memberi uang parkir Rp5 ribu untuk sepeda motor, kaki diajak berjalan menuju gerbang masuk. Kanan-kiri tersedia loket untuk membeli tiket. Hari biasa atau non-konser, yaitu Senin sampai Kamis, harga tiket masuk (HTM) dibandrol Rp35 ribu. Jumat sampai Minggu, harganya Rp75 ribu per orang.
Harga tiket tersebut, dari awal pembukaan PRSU pada 3 Juli lalu, sudah diributi masyarakat karena dianggap kemahalan. Yuri misalnya, warga Kota Binjai yang ingin mengajak keluarganya menikmati akhir pekan di PRSU, mengurungkan niat. Dia memilih wisata alam yang cuma bayar uang masuk dan sewa tikar jika berkenan.
"Kami empat orang sudah Rp300 ribu, itu baru tiket aja. Belum makan, minum, jajan-jajan, bisa habis Rp1 juta. Mending mandi-mandi ke sungai, murah meriah, kenyang. Apa kali rupanya yang ditengok, kata kawan yang udah masuk, gitu-gitu aja, gak berubah," cerocosnya, Minggu (12/7/2026).
Begitu juga komentar Wari warga Jalan Amaliun, Kota Medan. Katanya, kalau tiket dituruni jadi Rp25 ribu, pasti banyak yang mau datang. Apalagi, artis-artis ibu kota yang didatangkan pun, bukan yang terkenal. "Murahin tiketnya, pasti banyak yang datang. Artis-artisnya, yang dari Jakarta aja banyak yang gak kenal, apalagi yang dari Medan," katanya sambil tertawa.
- Pertamina Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Bright Gas di Regional Sumbagut
- UMKM Naik Kelas, BRI Peduli Dukung Sertifikasi Halal dan Perluasan Pasar
- Dynamic Pricing Bikin Tiket Final Piala Dunia Tembus Rp37 M?
Menanggapi hiruk-pikuk penurunan harga tiket tersebut, panitia PRSU bilang, harga tiket masuk bukan hanya untuk menikmati acara, tetapi bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif dan pelestarian budaya. Sekitar 75 persen konten yang dihadirkan adalah hasil karya pelaku seni, budaya, UMKM dan ekonomi kreatif lokal yang sudah melewati proses kurasi.
"Penetapan harga tiket telah mempertimbangkan kualitas penyelenggaraan, mulai dari keamanan, kenyamanan, fasilitas dan penyajian program. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang bernilai lebih kepada pengunjung. PRSU dengan wajah baru dirancang sebagai ruang inklusif masyarakat. Selama ini, selalu dipersepsikan hanya menyasar segmen tertentu," kata panitia bidang humas, Farah.

"Setiap masukan menjadi perhatian dan bahan evaluasi kami dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan. Dengan kualitas program yang semakin baik, kami harap PRSU menjadi ruang bersama yang mempertemukan seluruh elemen masyarakat dalam satu panggung kebanggaan Sumatera Utara," sambungnya.
Meredam gejolak di masyarakat soal harga tiket, panitia PRSU mengeluarkan kebijakan 1.000 tiket gratis untuk kunjungan 13 Juli 2026, kepada masyarakat di Kecamatan Medanhelvetia, Medansunggal, Medanselayang, Medanpetisah, Medanbaru dan Medan Barat. Satu Kartu Tanda Penduduk (KTP) bisa mendapat dua tiket.
Seketika kisruh, ragam komentar dan tudingan muncul. Pasalnya, Kota Medan punya 21 kecamatan, kenapa hanya lima yang dipilih? Anggota Komisi E DPRD Sumut Fajri Akbar mengatakan panitia harus memberi alasan yang objektif agar tidak muncul tudingan perlakuan tidak adil. Ia mengingatkan agar pelaksanaan PRSU dikelola profesional supaya kebijakan yang diambil tidak menimbulkan polemik.
"Kami minta panitia lebih profesional, ini bahan evaluasi pemerintah provinsi. PRSU milik rakyat Sumut, harusnya seluruh masyarakat merasakan manfaatnya," kata Fajri.
Menurutnya, penyelenggara harus memastikan setiap program yang berkaitan dengan masyarakat dilakukan transparan, memiliki dasar yang jelas, serta dikomunikasikan dengan baik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kecemburuan di tengah publik. PRSU adalah pesta rakyat yang inklusif, terbuka dan dinikmati semua masyarakat.
Berkeliling kabupaten dan kota
Setelah membeli tiket, pengunjung akan melewati barisan petugas pemeriksa badan dan isi bawaan. Tidak ada penjelasan soal prosedur ini, petugas bilang hanya menjalankan perintah. Seorang pengunjung yang tak senang dengan pemeriksaan, bertanya usai membuka tas ranselnya. "Kalian cari apa? Pemeriksaannya seperti mau bertemu presiden," katanya dengan kesal. Perempuan berkemeja hitam dengan tulisan di punggung Royalindo yang melongok isi tasnya memilih diam, dengan isyarat tangan menyilakannya masuk.
Pandangan lalu disuguhkan tiga jajar bangunan: sisi kiri adalah gedung yang berisi stand para organisasi perangkat daerah (OPD), di tengah berdiri seperti rumah bertulis Sumut Merchant Coffee Cultur 2026, sisi kanan ada gedung yang memamerkan seputar dunia pendidikan. Di sela-sela dan di belakang ketiga blok bangunan utama tersebut, berdiri paviliun 33 kabupaten dan kota di Sumut, stand makanan dan minuman, dan panggung utama.
Pekan kedua di Juli 2026, pukul 17.27 WIB, sepemandangan mata adalah sunyi dan lengang. Hanya beberapa orang beraktivitas, panitia dan peserta pameran. Melangkah ke gedung di sebelah kiri, stand Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumut yang tepat di depan pintu masuk, terlihat dua perempuan sedang berbincang. Di sekelilingnya terpajang produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan.
Begitu juga dengan stand lain, hanya diisi satu dua penjaga, tanpa pengunjung. Berjalan ke arah belakang gedung, paviliun Nias Selatan, Pakpak Barat, pintunya tertutup rapat. Paviliun Nias Utara, seorang perempuan duduk pas di depan pintu, tak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Paviliun lain yang satu komplek, sama. Seperti tidak ada aktivitas. Mata lalu tertuju paviliun Samosir. "Sudah buka, kah?" tanya seorang pengunjung sambil mendorong pintu yang tertutup.
Tiga perempuan di dalam serentak menjawab sudah, sejak dari pukul 11.00 WIB, sesuai jadwal operasional PRSU. "Sepi kali, perlu evaluasi tiketnya. Banyak pengunjung mengeluh mahal. Kami yang jaga stand dari dinas kabupaten dan kota jadi bertanya, kayak mananya PRSU ini, sepi kali. Padahal udah dua tahun gak dilaksanakan," kata Boru Sinaga.

Dia lalu menjelaskan apa saja yang dipamerkan, paling banyak ukiran kayu, wastra, camilan dan minuman khas. Kerajinan tradisional menggunakan teknik pahat termahal adalah tongkat yang biasa digunakan datu Suku Batak, namanya Tunggal Panaluan. Terbuat dari kayu pilihan, diukir dengan berbagai figur manusia dan hewan. Panjang sekitar tiga meter dihargai Rp7 juta, versi kecilnya dibandrol Rp1,2 juta. Kemudian papan catur dan bidaknya yang terbuat dari kayu jati.
"Ini catur versi Batak, yang kecil harganya Rp1,8 juta, yang agak besaran Rp2,2 juta. Ini gelang, kalo di Samosir laku untuk bule-bule, Rp10 ribu," ucapnya.
Kalau minuman, yang premium adalah Artisan Coffee Toba dan Mango Wine Silimalombu, masing-masing dihargai Rp250 ribu per botol. Ditanya apa beda mangga Samosir dengan mangga Parapat yang terkenal, Boru Sinaga bilang, mangga Samosir lebih besar dan manis karena tanahnya dekat dengan Geopark Kaldera Toba. "Jadi kita sudah punya wine sendiri karena Samosir banyak mangga. Rasanya enak, bisa menghangatkan tubuh," ucapnya.
Dari Kabupaten Samosir, dilanjut ke paviliun Binjai. Ternyata, hanya camilan keripik, kerupuk, dan produk fashion lokal seperti kebaya batik yang dipamerkan. Kota Binjai terkenal sebagai kota rambutan, tapi tidak ada rambutan atau produk turunannya dipajang. Yang ada aneka manisan, penganan khas Suku Melayu. Harganya Rp25 ribu untuk berat 100 gram.
Bergerak lagi ke paviliun Tebingtinggi, kota dengan lemang pulut dan srikaya yang terkenal. Di sini tak kalah minim pengunjung, cuma diisi penjaga stand. Ada setandan Pisang Kepok Keling (Musa sp.) berdiri dekat pintu masuk. Varietas lokal unggulan yang produk olahannya seperti keripik sudah diekspor ke Malaysia. Masa panen yang lebih cepat dan kuantitas lebih banyak membuat petani dan masyarakat mendapat penghasilan tambahan.
"Di Tebingtinggi ada perkebunannya. Kami juga jual bibitnya, Rp 50 ribu per pohon. Sembilan bulan sudah panen, kalau pisang lain, kan, sebelas bulan," kata penjaga stand, Rahmad.
Dari Tebingtinggi, singgah sebentar ke paviliun Tapanuli Selatan melihat salak dan aneka beras, kemudian ke Kabupaten Mandailingnatal (Madina) melihat Amak Lampisan, tikar yang dipakai raja menyambut tamu kehormatan atau sebagai alas duduk di pesta-pesta adat. Terbuat dari anyaman daun pandan, menggunakan warna-warna tertentu seperti kuning, hijau, merah, hitam, dan biru. Lapisannya ganjil, mulai selapis sampai tujuh lapis. Panjangnya sekitar dua meter dengan lebar satu meter.
"Ukuran menunjukkan status sosial seseorang dalam acara adat. Daerah penghasil Amak Lampisan adalah perkampungan Malintang Julu, Malintang, Huta Baringin dan Tangga Bosi. Selain Amak Lampisan, ada dodol, kipang pulut, peyek koin. Dodol paling best seller. Kami pesan lagi karena sudah habis terjual," kata Ervin.
Malam sudah turun, singgah sebentar ke paviliun Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Stand hanya diisi beberapa produk UMKM dan foto-foto bencana alam yang dikemas dalam figura. Ada foto kunjungan Presiden Prabowo Subianto pascabencana, memberi semangat kepara para korban.
"PRSU tahun ini, kami hanya mengandalkan foto-foto bencana alam untuk ditonton pengunjung. Karena memang kehancuran pascabencana belum banyak yang bisa dibenahi. Sekolah hancur, bangunan masih porak-poranda dan ekonomi benar-benar terpuruk, sebagian warga juga masih tinggal di pengungsian," SMP Marihot Pasaribu, penanggung jawab stand yang bertugas di Dinas Perekonomian Tapteng.

Paviliun terakhir yang disinggahi milik Pemerintah Kota Medan. Bangunannya unik, seperti rumah panggung Melayu namun atapnya tinggi mengerucut ke atas. Cat kuningnya sudah kusam, tidak terlihat ada pergerakan manusia. Penasaran, sekitar 25 anak tangga dinaiki. Booth-booth OPD kosong. Di depan rak buku gerai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, dua perempuan sedang asyik menikmati nasi bungkus, tak peduli ada pengunjung. Di sudut kirinya, beberapa pria sedang merebahkan badan.
"Kosong, tidak ada yang menarik. Mungkin karena hari libur, ya. Tapi kalau hari libur saja sepi begini, bagaimana lagi besok?" kata Rorita, warga Simalingkar Medan.
Dia berjalan menuju panggung utama, katanya, siapa tahu artis yang sedang menghibur dikenalnya. Sampai di depan panggung, Kenduri Kopi sedang beraksi. Penontonnya sedikit. Rorita memilih pulang. "Gak kenal aku artisnya. Balik kanan-lah, mau ujan," ucapnya.
Begitu punggungnya hilang dari penglihatan, hujan deras turun. Semua kocar-kacir. Penjaja jas hujan plastik di depan pintu masuk pun lari berteduh. "Tiap hari hujan di sini," celetuk seorang tukang parkir.
Masuk kalender event nasional
PRSU ke-50 digelar mulai 3 Juli sampai 2 Agustus 2026. Mengusung tema "Harmoni Emas", ajang tahunan ini diharap menjadi etalase pembangunan, promosi potensi daerah, sekaligus kebanggaan masyarakat Sumut.
Direktur Utama PT PPSU, Ferry Indra, mengatakan penyelenggaraan kali ini menghadirkan wajah baru PRSU dengan konsep yang lebih segar dengan melibatkan lebih banyak potensi lokal.
"Penyelenggaraan PRSU adalah agenda strategis Provinsi Sumut. Tahun ini dibuat berbeda, kami tampilkan sisi lainnya. Semua kabupaten dan kota, plus Pulau Pinang, Malaysia, terlibat. Kami target selama 31 hari pelaksanaan, jumlah pengunjung 300 ribu orang," katanya.
Kawasan PRSU dibagi menjadi tiga area panggung. Panggung depan menjadi landmark yang menampilkan berbagai komunitas, seperti difabel, orkes dorong, dan komunitas kreatif lainnya. Panggung utama menghadirkan artis ibu kota, sedangkan panggung keong menjadi pusat pertunjukan seni dan budaya daerah.
"Kami sangat mengharapkan kerja sama seluruh pihak meramaikan PRSU. Di sinilah harapan kita show off ke provinsi lain, kalau Sumut juga keren," kata Ferry.
Komisaris Utama PT PPSU, Effendi Pohan, menilai penyelenggaraan PRSU tahun ini menjadi momentum mengembalikan kejayaan ajang yang sempat vakum selama dua tahun. Bukan sekadar ajang jual beli, harus memastikan event berdampak panjang pada BUMD dan masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya tata kelola penyelenggaraan yang baik dengan berpedoman pada tiga prinsip utama, yakni transparan, terukur, dan terakurasi.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumut Nurbaiti Harahap, selaku koordinator pameran OPD dan BUMD mengatakan, 22 OPD membuka stand. Sekretariat Pemprov Sumut akan ada sembilan biro menjadi satu stand. Juga ada stand instansi vertikal, BUMN dan mitra seperti PT PLN, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Sumut, Tirtanadi, Bank Sumut, RS Haji Medan, RS Jiwa, Universitas Medan Area, dan Universitas Pembangunan Panca Budi.
Selain menghadirkan pameran pembangunan dan hiburan, juga tersedia berbagai layanan publik. Mobil perpustakaan keliling hadir untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak. RS Haji Medan menyiapkan ambulans keliling yang melayani pemeriksaan kesehatan gratis, sementara Samsat keliling melayani pembayaran pajak kendaraan masyarakat yang berkunjung.

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengapresiasi dukungan Komisi VII DPR agar PRSU masuk kalender event nasional Kementerian Pariwisata. Dukungan disampaikan saat komisi tersebut melakukan kunjungan kerja spesifik ke PRSU pada 9 Juli 2026.
Bobby mengatakan, PRSU tahun ini menjadi momentum kebangkitan setelah pandemi Covid-19. Menjadi wadah yang menyatukan potensi sumber daya manusia, budaya dan ekonomi kreatif. "Di daerah lain mungkin hanya menampilkan satu tarian, di Sumut ada lima etnis yang ditampilkan melalui pakaian adat, kirab budaya dan tarian. Keberagaman ini menjadi potensi besar untuk memperkuat kebudayaan, sumber daya manusia dan perekonomian," katanya.
Ia berharap PRSU masuk kalender event nasional sehingga meningkatkan promosi budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Bobby juga mengingatkan pemerintah kabupaten dan kota agar mengeyampingkan ego sektoral dalam mendukung PRSU. Menurutnya, masih ada daerah yang telah memiliki paviliun, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengenalkan potensinya. "Jangan ada ego daerah. Paviliunnya sudah ada, tetapi tidak dibuka atau dimanfaatkan" katanya.
Ketua tim kunjungan kerja spesifik Evita Nursanty menilai, PRSU perlu terus ditransformasikan menjadi ajang yang lebih profesional dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat. Ia mendorong ada grand design pengembangan lima hingga 10 tahun ke depan sehingga berkembang menjadi pusat pameran, perdagangan, seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang mampu menarik wisatawan, pembeli, investor dari dalam dan luar negeri.
Mengusulkan kehadiran paviliun khusus pariwisata serta membuka peluang partisipasi UMKM dari luar daerah. Menurutnya, Komisi VII DPR siap memperkuat sinergi dengan kementerian terkait agar PRSU masuk kalender event nasional dan memperoleh dukungan pemerintah pusat. "Kita butuh kolaborasi semua pihak, tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri," kata Evita.
Direktur Utama PT PPSU Ferry Indra menambahkan, seluruh kegiatan PRSU 2026 tanpa menggunakan APBD, melainkan melalui skema kemitraan. Sampai hari keenam penyelenggaraan, jumlah pengunjung tercatat 25.447 orang dengan nilai transaksi ekonomi Rp 511 juta lebih. "Artinya perputaran ekonomi positif dan kami yakin akan terus meningkat sampai penutupan," katanya.
