Ilustrasi geopolitik
Medan Insight

Rupiah dan IHSG Berbeda Arah, Geopolitik Jadi Sorotan

  • “Tekanan geopolitik masih menjadi risiko terbesar bagi pasar karena dapat mendorong kenaikan harga energi dan inflasi”
Medan Insight
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

MEDAN - Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak berlawanan arah pada perdagangan awal pekan. Rupiah tertekan ke kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat, sementara IHSG masih mampu menguat ke level 6.070.

Pergerakan pasar keuangan domestik dalam sepekan ke depan akan dipengaruhi sejumlah data ekonomi, antara lain cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel. Selain itu, pelaku pasar juga menanti agenda Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral AS yang menjadi salah satu penentu arah pasar global.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai sejumlah indikator domestik berpeluang memberikan penahan terhadap tekanan pasar keuangan. Namun, risiko eksternal masih menjadi perhatian utama, terutama perkembangan geopolitik yang diperkirakan kembali memanas.

“Tekanan geopolitik masih menjadi risiko terbesar bagi pasar karena dapat mendorong kenaikan harga energi dan inflasi,” kata Gunawan, Senin (5/10/2026).

Harga minyak mentah Brent pada perdagangan pagi berada di sekitar US$101,4 per barel. Sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan di kisaran 5,25 persen.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menguat ke level 102,2. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap rupiah yang terkoreksi menuju Rp17.900 per dolar AS pada sesi pertama.

Berbeda dengan rupiah, IHSG masih bergerak di zona positif dan berada di sekitar level 6.070. Penguatan indeks domestik antara lain ditopang sentimen positif dari mayoritas bursa saham Asia.

Meski demikian, Gunawan mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati potensi perubahan sentimen apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut. Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 6.000–6.100.

Sementara rupiah berpeluang berada di kisaran Rp17.870 hingga Rp17.985 per dolar AS.

Menurut dia, belum terdapat agenda ekonomi domestik besar yang secara langsung menjadi penggerak utama pasar pada perdagangan hari ini. Perhatian justru lebih banyak tertuju pada perkembangan geopolitik serta dampaknya terhadap harga minyak dan ekspektasi inflasi.

Di sisi lain, harga emas dunia relatif stabil di sekitar US$4.154 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,4 juta per gram.