
Rupiah Melemah, Waspadai Inflasi Sampai Akhir Tahun
- “Tekanan inflasi tidak hanya datang dari nilai tukar. Biaya input, kondisi produksi, harga energi, serta faktor cuaca bisa bergerak bersamaan dan memperbesar tekanan terhadap harga”
Medan Insight
MEDAN – Nilai tukar Rupiah kembali bergerak di zona hijau terhadap Dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Rabu (23/9/2026), di kisaran Rp17.800 per Dolar AS. Namun, dalam sebulan terakhir Rupiah masih berada dalam tren pelemahan yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi hingga penghujung tahun.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap Rupiah mulai terlihat sejak 9 September 2026. Sebelumnya, mata uang nasional sempat menguat hingga level Rp17.500 per dolar AS setelah terpilihnya Gubernur Bank Indonesia.
“Penguatan rupiah sebelumnya sempat membentuk sentimen positif, tetapi tekanan kembali muncul seiring memburuknya kondisi geopolitik dan kenaikan harga minyak. Kebijakan suku bunga AS juga menjadi faktor yang perlu dicermati,” ujar Gunawan, Rabu (23/9/2026).
- Rupiah Kembali Melemah 0,23%, Simak Kurs Dolar AS Hari Ini
- 5 Film Indonesia Terbaru di Bioskop September 2026, Ada Apa Saja?
- Anggaran MBG 2027 Jadi Rp232,5 Triliun, Bagaimana Rinciannya?
Menurutnya, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat atau The Fed menjadi salah satu risiko bagi pasar keuangan. Jika arah kebijakan suku bunga tetap ketat hingga akhir 2026, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, berpotensi berlanjut.
Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap biaya modal dan harga barang. Pelemahan Rupiah membuat kebutuhan terhadap mata uang AS meningkat, sementara sejumlah bahan baku dan produk impor menjadi lebih mahal.
Gunawan menilai kenaikan biaya produksi dapat diteruskan ke harga kebutuhan masyarakat. Kondisi itu semakin perlu diwaspadai karena masih terdapat gangguan cuaca El Nino di sejumlah wilayah Indonesia yang dapat memengaruhi produksi komoditas tertentu.

“Tekanan inflasi tidak hanya datang dari nilai tukar. Biaya input, kondisi produksi, harga energi, serta faktor cuaca bisa bergerak bersamaan dan memperbesar tekanan terhadap harga,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu opsi untuk meredam pelemahan rupiah adalah melalui penyesuaian suku bunga acuan. Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap sektor usaha karena biaya pembiayaan dapat meningkat.
Jika suku bunga dinaikkan untuk menjaga stabilitas Rupiah, tekanan harga dapat lebih banyak berasal dari sektor manufaktur akibat meningkatnya biaya produksi dan pembiayaan. Di sisi lain, stabilitas nilai tukar dapat membantu menahan kenaikan harga bahan baku maupun produk jadi yang berasal dari impor.
Menurut Gunawan, kondisi tersebut membuat ruang pengendalian inflasi hingga akhir tahun menjadi cukup menantang. Tekanan terhadap kemampuan produksi berpotensi meningkat ketika biaya input mengalami kenaikan, terlebih apabila harga minyak mentah kembali bergejolak.
“Kita perlu berhati-hati menghadapi tekanan inflasi sampai tutup tahun. Rupiah, geopolitik, harga minyak dan faktor cuaca masih menjadi variabel yang dapat memengaruhi pergerakan harga,” ungkapnya.
Berbagai faktor tersebut, Gunawan mengingatkan bahwa perkembangan nilai tukar perlu terus dicermati bersamaan dengan kondisi harga energi dan pangan. Kombinasi pelemahan Rupiah, kenaikan biaya produksi, serta gangguan pasokan dapat menjadi sumber tekanan tambahan terhadap inflasi nasional.
