Ketua Umum Indonesia Health Tourism Society (IHTS), Sandiaga Salahuddin Uno
Nasional & Internasional

Sandiaga Uno Soroti Potensi Besar Medical Tourism Indonesia

  • “Medical tourism bukan sekadar perjalanan orang sakit, tetapi sebuah ekosistem ekonomi luas yang melibatkan teknologi, hospitality hingga peluang bisnis kreatif bagi bangsa kita”
Nasional & Internasional
Mei-Mei

Mei-Mei

Author

sumatrakini.com – Fenomena masyarakat Indonesia yang memilih mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri menjadi perhatian dalam Sandi Connect #11, kolaborasi OK OCE Indonesia dan Apollo Hospitals Hub Indonesia. Forum tersebut membahas perkembangan medical tourism sekaligus peluang membangun ekosistem kesehatan yang lebih kuat di dalam negeri.

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020-2024 sekaligus Ketua Umum Indonesia Health Tourism Society (IHTS), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan keputusan pasien mencari layanan kesehatan di luar negeri tidak semata-mata dipengaruhi persoalan biaya.

Dalam materi diskusi disebutkan hampir 2 juta warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan setiap tahun. Kebutuhan terhadap dokter spesialis tertentu, second opinion, teknologi medis, pengalaman rumah sakit hingga layanan yang terintegrasi menjadi sejumlah faktor yang mendorong fenomena tersebut.

“Medical tourism bukan sekadar perjalanan orang sakit, tetapi sebuah ekosistem ekonomi luas yang melibatkan teknologi, hospitality hingga peluang bisnis kreatif bagi bangsa kita,” ujar Sandiaga, Rabu (16/9/2026).

Diskusi juga menghadirkan Direktur Apollo Hub Indonesia Ribkah Darmawanti dan Business Development Manager Apollo Hub Indonesia Sherena A Maharayni. Keduanya memperkenalkan kapabilitas Apollo Hospitals India dalam melayani pasien internasional.

Layanan yang dikenalkan adalah transplantasi hati, ginjal, jantung, sumsum tulang dan multi-organ, bedah robotik, proton therapy, ZAP-X untuk penanganan tumor otak, CyberKnife Radiosurgery, Digital PET CT serta teknologi MRI dan CT.

Apollo Hospitals juga memiliki layanan International Patient yang mendampingi pasien sejak pengiriman rekam medis, konsultasi dengan dokter spesialis dan second opinion hingga proses pengurusan visa medis serta keberangkatan ke India.

Pembahasan dalam forum tidak hanya melihat medical tourism sebagai aktivitas masyarakat mendapatkan pengobatan di negara lain. Fenomena ini juga berkaitan dengan perkembangan teknologi kesehatan, pariwisata, hospitality dan ekonomi kreatif.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama lintas negara sekaligus mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan. Kolaborasi juga dapat dikembangkan melalui transfer pengetahuan, akses teknologi, pengembangan kompetensi tenaga kesehatan dan edukasi.

Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, memiliki relevansi dalam perkembangan medical tourism. Letak geografis yang relatif dekat dengan sejumlah negara tujuan pengobatan serta keberadaan fasilitas kesehatan membuat Medan memiliki potensi dalam pengembangan ekosistem wisata medis.

Melalui Apollo Hospitals Hub Indonesia, kerja sama antara institusi kesehatan Indonesia dan India juga dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya melalui rujukan pasien. Akses terhadap teknologi kesehatan, keahlian medis, edukasi serta pengembangan jejaring layanan menjadi bagian dari peluang kolaborasi yang dibahas dalam forum tersebut.

Diskusi itu sekaligus menempatkan fenomena WNI berobat ke luar negeri dalam konteks yang lebih luas, yakni bagaimana kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem kesehatan dan membuka peluang ekonomi baru.