
Selalu Mengikuti Tren yang Ramai? Waspada, Bisa Jadi Efek Bandwagon
- Jangan anggap remeh, simak penjelasan soal efek bandwagon atau bandwagon effect dan cara mencegah terjebak dari efek tersebut.
Ekonomi & Pariwisata
JAKARTA — Pernahkah kamu tiba-tiba ingin mencoba dessert viral seperti Dubai chewy cookie, minum matcha, atau ikut padel dan HYROX, padahal sebelumnya kamu tidak terlalu tertarik?
Meski awalnya kamu tidak terkesan atau ingin melakukannya, tiba-tiba kamu jadi penasaran dan bertanya-tanya mengapa semua orang kini membicarakan hal tersebut dan melakukannya.
Nah, kalau kamu pernah mengikuti tren karena FOMO, tekanan dari lingkungan, atau berbagai alasan serupa lainnya, itu artinya kamu sedang mengalami suatu fenomena yang dalam psikologi disebut sebagai efek bandwagon atau bandwagon effect.
BACA JUGA: Jangan Asal Ikut Tren! Ini Cara Mendeteksi Bandwagon Effect di Iklan
Apa Itu Bandwagon Effect atau Efek Bandwagon?

Seperti yang dilansir dari Verywell Mind, efek bandwagon adalah salah satu alasan mengapa banyak orang sering terjebak dalam tren yang mungkin hanya bertahan sesaat.
Bias ini juga yang bisa memengaruhi keputusanmu baik secara positif atau negatif.
Dampak positif dari bandwagon effect seperti saat ada tren gaya hidup sehat, kamu jadi ikut menjalaninya.
Akan tetapi, bandwagon effect juga bisa membuatmu mencoba metode kesehatan yang sebetulnya belum terbukti keampuhannya atau keamanannya, membeli suatu barang karena sedang tren dan viral bahkan sebetulnya tidak sedang kamu butuhkan.
BACA JUGA: Fakta di Balik Tren Penjualan Boneka Labubu di Dunia
Dampak Negatif Bandwagon Effect

Dampak Negatif Bandwagon Effect dari Dunia Politik
Bandwagon effect bisa menyebabkan seseorang cenderung memilih kandidat yang tampak paling populer hanya karena ingin berada di pihak mayoritas.
Istilah ‘bandwagon; yang berasal dari gerobak pembawa kelompok musik di sebuah parade ini kini menjadi populer dalam dunia politik serta digunakan untuk menggambarkan kecenderungan seseorang mengikuti pilihan mayoritas, bahkan jika harus mengorbankan prinsip atau keyakinan pribadi.
BACA JUGA: Anchoring Bias Bisa Bikin Kamu Makin Boros, Begini Cara Mengelolanya
Dampak Negatif Bandwagon Effect untuk Memicu Kebiasaan Belanja
Dalam kehidupan sehari-hari, konsumen kerap mengandalkan pendapat atau keputusan pembelian orang lain ketika memilih suatu produk.
Cara ini memang bisa menghemat waktu karena tidak perlu mencari informasi sendiri.
Namun, bandwagon effect di sini memiliki sisi negatif,karena terlalu mengandalkan keputusan orang lain, konsumen bisa membeli barang hanya karena sedang populer, bukan karena benar-benar membutuhkan.
Contohnya, kamu jadi ingin membeli ponsel terbaru hanya karena banyak orang memilikinya, meski sebenarnya ponsel lama milikmu masih berfungsi dengan baik atau kondisi keuangan belum memungkinkan.
BACA JUGA: Waspada! Ini Dampak Kamu Terjebak Confirmation Bias Saat Investasi
Dampak Negatif Bandwagon Effect untuk Investasi dan Keuangan
Dalam dunia investasi, bandwagon effect bisa jadi salah satu penyebab munculnya asset bubble.
Hal ini bisa berdampak terutama untuk investor baru yang takut ketinggalan. Ketika semakin banyak orang membeli suatu saham atau aset, harganya bisa naik.
Kondisi tersebut bisa membuat harga jadi terdorong naik meski nilai fundamental aset belum tentu mendukung.
Cara Menghindari Bandwagon Effect

Riset dan Cari Informasi Dulu dari Berbagai Sumber
Jangan langsung menelan mentah-mentah suatu informasi yang datang kepadamu. Hindari hanya mengandalkan satu sumber saat menilai sebuah informasi.
Coba cari data dan pendapat dari berbagai sumber, termasuk pandangan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan informasi yang pertama kali kamu temukan.
BACA JUGA: Mengungkap Penguasa Bisnis Air Minum dalam Kemasan di Indonesia
Waspadai Solusi yang Hadir tapi Terlalu Sederhana
Tren yang diikuti oleh banyak orang biasanya hanya sebagai solusi sederhana untuk masalah yang sebenarnya cukup kompleks.
Tidak jarang, solusi ini dipromosikan dan dibesar-besarkan oleh seorang tokoh atau pakar yang karismatik tapi tidak paham dan ahli mengenai klaim tersebut.
Kenali Cognitive Dissonance
Saat kamu sadar ada yang salah terhadap hal-hal yang kamu lakukan, bisa jadi kamu justru merasa sulit untuk meninggalkannya, mungkin karena sudah familiar atau nyaman.
Kondisi ini sebetulnya adalah salah satu contoh kondisi sunk cost fallacy yang membuat kita terus mempertahankan sesuatu hanya karena sudah terlanjur banyak berinvestasi di dalamnya.
Padahal rasa tidak nyaman dan cognitive dissonance atau konflik dalam pikiran saat meninggalkan kebiasaan yang terpengaruh oleh efek bandwagon merupakan hal yang biasa dan wajar terjadi.
BACA JUGA: Kenali Tren Wisata Snackpacking, Liburan Sambil Cari Jajanan Lokal!
Cari Bukti yang Jelas dan Valid
Tren yang diikuti oleh banyak orang sering kali hanya didukung oleh bukti yang terbatas atau hanya berdasarkan pengalaman pribadi seseorang.
Contohnya, tren kesehatan yang tiba-tiba jadi tren karena menyebar melalui media sosial. Banyak orang tiba-tiba mengikutinya tapi dasar pendukungnya hanya berupa testimoni.
Oleh karena itu, sebaiknya jangan langsung percaya pada praktek atau tren semacam ini. Cari informasi yang terpercaya dan didukung oleh bukti ilmiah untuk mengetahui apakah klaim tersebut benar atau sebaliknya.
Itu tadi penjelasan soal efek bandwagon atau bandwagon effect dan cara mencegah terjebak dari efek tersebut.
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 21 Agt 2026
