
Tekanan Surat Utang AS Berlanjut, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000
- Kenaikan harga minyak menjadi perhatian lain karena dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya energi dan prospek inflasi global
Medan Insight
MEDAN - Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan pasar global. Pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat, mendekati level psikologis Rp18.000.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan tekanan kali ini lebih banyak dipengaruhi pergerakan pasar obligasi Amerika Serikat ketimbang data ekonomi negeri tersebut. Klaim awal pengangguran AS tercatat 197 ribu orang, lebih rendah dari perkiraan pasar.
“Penurunan tersebut bisa meredakan spekulasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS untuk sementara waktu. Namun, pasar keuangan akan lebih fokus pada pasar obligasi AS dibandingkan data lainnya,” kata Gunawan, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali meningkat dan sempat menyentuh 5,51 persen dalam perdagangan di AS. Level tersebut menjadi perhatian karena tingginya imbal hasil surat utang AS dapat memengaruhi arus dana dan pergerakan mata uang negara berkembang.
- KPPU dan Grab Perkuat Program Kepatuhan Persaingan Usaha
- Gunakan CNG, Hotel Platinum Yogyakarta Catat Efisiensi Biaya Sampai 30 Persen
- 5 Seiko Lawas yang Jadi Incaran Kolektor, Penggemar Tunggu Comeback
“Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali naik dan menyentuh level tertingginya sejak tahun 2004. Sementara itu, USD Index bergerak stabil dengan kecenderungan turun pada sesi perdagangan Asia. Kombinasi sentimen ini berpeluang membuat Rupiah kesulitan untuk menguat,” ujarnya.
Tekanan tersebut terlihat dari pergerakan Rupiah yang kembali melemah ke sekitar Rp17.900 per dolar AS. Sehari sebelumnya, Rupiah juga sempat menyentuh Rp17.903 per dolar AS, sementara Bank Indonesia menyebut ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS dan kekhawatiran inflasi global sebagai faktor yang turut mendorong kenaikan yield Treasury.
Di pasar saham domestik, IHSG masih mampu dibuka menguat pada level 6.315. Pergerakan ini berlawanan dengan mayoritas bursa Asia yang berada di zona merah. Meski demikian, Gunawan melihat ruang koreksi tetap terbuka, terutama setelah harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar US$105 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian lain karena dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya energi dan prospek inflasi global. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Sementara itu, harga emas dunia masih bergerak dalam tekanan di kisaran US$4.287 per troy ounce atau sekitar Rp2,48 juta per gram. Pergerakan logam mulia juga belum menunjukkan penguatan berarti di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah dan perkembangan upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Gunawan menilai pasar keuangan global masih mencari keseimbangan baru di tengah perubahan ekspektasi terhadap suku bunga, obligasi, dolar AS dan harga komoditas. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap aset-aset pasar berkembang masih perlu dicermati.
Dengan posisi Rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS, perkembangan yield US Treasury dan harga minyak menjadi dua faktor eksternal yang berpotensi menentukan arah perdagangan mata uang domestik dalam waktu dekat.
