
Telkom Bukukan Pendapatan Rp113,5 Triliun, Empat Segmen Bisnis Tumbuh Positif
- "Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data..."
Ekonomi & Pariwisata
sumatrakini.com – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026. Pendapatan tersebut tumbuh 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ditopang pertumbuhan empat segmen bisnis utama di tengah berlanjutnya transformasi perusahaan melalui program TLKM 30.
Selain pendapatan, Telkom juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp55,5 triliun atau tumbuh 2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Margin EBITDA tercatat 48,9 persen.
Sementara itu, laba bersih perseroan mencapai Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen. Jika menggunakan perhitungan laba bersih normalisasi, Telkom mencatatkan Rp16,5 triliun atau meningkat 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan margin 14,6 persen.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan perseroan terus memperkuat bisnis inti sekaligus menjalankan transformasi untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Menurut dia, peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap layanan data dan layanan digital menjadi peluang bagi TelkomGroup untuk mengoptimalkan kapabilitas konektivitas serta infrastruktur yang dimiliki.
- BNPB Catat 2.285 Bencana, Dairi hingga Lumajang Dilanda Cuaca Ekstrem
- PGN Perkuat Bisnis Energi Rendah Karbon, Emisi Turun 29.574 Ton CO₂
- IHSG Anjlok 3,78 Persen, Rupiah Bertahan Menguat Tipis di Tengah Tekanan Pasar
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan,” ujar Nanang dalam keterangan pers, Senin (2/11/2026).
Dari sisi bisnis, segmen B2C yang mencakup layanan seluler dan fixed broadband membukukan pendapatan Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen secara tahunan.
Di bisnis seluler, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8 persen. Pertumbuhan terutama ditopang bisnis digital yang mencapai Rp60,7 triliun atau naik 7,7 persen.
Strategi pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, serta penguatan monetisasi layanan seluler turut mendorong peningkatan rata-rata pendapatan per pelanggan atau average revenue per user (ARPU).
ARPU Telkomsel meningkat 7,1 persen menjadi Rp45.400. Sementara itu, hasil monetisasi penggunaan data atau data yield tumbuh 6,5 persen secara tahunan.
Pada layanan IndiHome, pendapatan tercatat Rp19,1 triliun seiring penataan basis pelanggan. Meski demikian, sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan secara kuartalan.
Hingga kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU juga naik 3,2 persen menjadi Rp217.700.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp7,1 triliun atau tumbuh 5,5 persen. Kontribusi berasal dari layanan pusat data, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur TelkomGroup.
Salah satu anak usaha Telkom, Mitratel, membukukan pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan fiber to the tower (FTTT) sebesar Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8 persen.
Mitratel juga mencatatkan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun. Margin EBITDA dan margin laba bersih masing-masing tercatat 82,9 persen dan 22,2 persen.
Sementara itu, NeutraDC mencatatkan pertumbuhan pendapatan 17 persen menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA perusahaan tersebut meningkat 35 persen dengan margin mencapai 40,9 persen.
Pertumbuhan NeutraDC ditopang kontribusi pusat data di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan serta komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui layanan Neutra Compute.
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas pusat data hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). Untuk mendukung rencana tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kemampuan teknis, akses pasar dan pendanaan. Pada segmen B2B ICT, pendapatan Telkom mencapai Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1 persen secara tahunan.
Segmen usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi salah satu penggerak pertumbuhan dengan pendapatan Rp3,3 triliun atau naik 10,2 persen. Kinerja tersebut didukung pertumbuhan pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen menjadi 771.100 pelanggan.
Bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga tumbuh 6,2 persen sepanjang periode tersebut. Segmen internasional turut mencatatkan perkembangan positif. Pendapatannya mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan terutama ditopang pendapatan jaringan yang meningkat 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun. Kenaikan tersebut sejalan dengan penguatan layanan konektivitas internasional bagi perusahaan global hyperscalers dan global carriers.
Telin juga terus memperluas jaringan internasional melalui pengembangan kabel laut. Salah satunya proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026, serta proyek INSICA yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pengembangan tersebut sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai pusat konektivitas kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas pusat data NeutraDC.
Nanang mengatakan, penguatan konektivitas internasional merupakan bagian dari upaya TelkomGroup meningkatkan peran Indonesia dalam ekosistem digital global.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” katanya.
Di luar penguatan bisnis, Telkom juga melanjutkan transformasi melalui program TLKM 30 yang memiliki empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menyederhanakan struktur perusahaan, mengoptimalkan nilai aset, serta memperkuat peran Telkom sebagai strategic holding.
Hingga kuartal III 2026, Telkom telah menyelesaikan penataan 14 entitas yang terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, dan penggabungan dua entitas.
Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen.
Sebanyak 94,3 persen belanja modal dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperkuat serta memperluas kapabilitas konektivitas digital.
Salah satu langkah penting dalam transformasi tersebut adalah penyelesaian pemisahan aset dan bisnis konektivitas fiber wholesale ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui pemisahan tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia. Perusahaan ini akan mengembangkan model bisnis carrier-neutral dan open-access untuk mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
Nanang menyebut streamlining menjadi salah satu prioritas utama transformasi tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas diharapkan membentuk organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan adaptif.
Ia menegaskan, transformasi tidak hanya berorientasi pada efisiensi internal, tetapi juga harus menghasilkan nilai tambah berkelanjutan bagi perusahaan, pelanggan, dan pemangku kepentingan.
Telkom optimistis dapat menutup 2026 dengan kinerja yang semakin solid. Perseroan juga akan terus meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan seiring perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas dan layanan digital.
