
Waspadai Kesemutan Digital, Lakukan Deteksi Dini Gangguan Saraf
- "Columbia Asia Hospital Aksara berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan saraf. Melalui edukasi dan layanan neurologi yang komprehensif..."
Medan Insight
MEDAN - Meningkatnya penggunaan perangkat digital di kalangan pekerja muda memunculkan ancaman baru terhadap kesehatan, yakni gangguan saraf akibat aktivitas statis dalam waktu lama. Columbia Asia Hospital Aksara mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh keluhan berupa kesemutan, baal, maupun nyeri yang muncul setelah bekerja di depan komputer atau menggunakan gawai.
Berdasarkan Laporan Digital 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 212 juta orang. Seiring meningkatnya durasi penggunaan perangkat digital, berbagai penelitian menunjukkan prevalensi neuropati pada populasi umum berkisar 1–7 persen. Risiko tersebut lebih tinggi pada individu yang bekerja dalam posisi statis dan melakukan gerakan berulang dalam waktu lama, seperti pekerja kantoran, pekerja kreatif digital, hingga masyarakat yang banyak menggunakan gawai dalam aktivitas sehari-hari.
Dokter Spesialis Saraf Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut, Sp.N., mengatakan gangguan saraf sering kali diawali dengan gejala ringan yang kerap diabaikan. Padahal, jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius bahkan berdampak permanen.
- Mulai 1 Agustus, Pajak Marketplace Diterapkan! Ini yang Perlu Diwaspadai
- Di Balik Kesuksesan Louis Vuitton, Bernard Arnault Punya Satu Penyesalan Besar
- Siapa Raja Kopi Kemasan Indonesia? Intip Peta Persaingan Merek Ternama
"Gejala awal seperti kesemutan, baal atau mati rasa, hingga nyeri pada tangan dan leher merupakan sinyal bahwa saraf sedang mengalami tekanan. Konsultasi sejak dini dengan dokter spesialis saraf dapat membantu menegakkan diagnosis secara tepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisinya memburuk," ujarnya, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Indriazel, menjaga kesehatan saraf tidak cukup hanya dengan mengurangi durasi penggunaan gawai. Masyarakat juga harus menerapkan pola kerja yang ergonomis, seperti menjaga posisi layar sejajar dengan mata serta menghindari duduk dalam posisi yang sama terlalu lama.
"Semua orang sebaiknya melakukan stretching atau peregangan setiap 30 menit hingga satu jam setelah melakukan aktivitas statis. Peregangan sederhana dapat membantu melancarkan aliran darah, mengurangi ketegangan otot, serta mencegah penekanan pada saraf," katanya.
Ia juga menekankan bahwa olahraga rutin merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan otot, sendi, dan saraf.

"Olahraga setiap hari penting untuk menjaga kekuatan otot, kelenturan sendi, serta kesehatan saraf. Otot yang kuat akan menopang tubuh dengan lebih baik sehingga risiko gangguan akibat aktivitas yang monoton maupun posisi tubuh yang kurang tepat dapat diminimalkan," ucapnya.
Ia meluruskan anggapan yang masih banyak diyakini masyarakat, khususnya di kalangan ibu rumah tangga.
"Banyak ibu rumah tangga merasa pekerjaan sehari-hari seperti menyapu, mengepel, mencuci, atau memasak sudah termasuk olahraga. Padahal aktivitas tersebut belum tentu memberikan manfaat kebugaran yang sama dengan olahraga yang dilakukan secara teratur dan terukur. Ibu rumah tangga tetap perlu meluangkan waktu untuk berolahraga setiap hari, misalnya berjalan kaki, senam, bersepeda, atau latihan penguatan otot agar kesehatan otot, sendi, dan saraf tetap terjaga," ungkapnya.
Ia menambahkan, olahraga rutin juga membantu menjaga massa otot, meningkatkan fleksibilitas tubuh, memperbaiki sirkulasi darah, serta menurunkan risiko gangguan saraf dan keluhan muskuloskeletal akibat aktivitas berulang. Selain menjaga pola hidup sehat, masyarakat juga diminta tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan yang tidak kunjung membaik.
"Apabila mengalami kesemutan, baal, atau nyeri yang tidak hilang hingga dua minggu, segera periksakan diri ke dokter spesialis saraf. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini akan meningkatkan peluang kesembuhan serta mencegah kerusakan saraf yang lebih berat," tegasnya.
Sementara itu, CEO Columbia Asia Hospital Aksara, dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H., FISQua, mengatakan edukasi mengenai kesehatan saraf merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung produktivitas masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
"Columbia Asia Hospital Aksara berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan saraf. Melalui edukasi kesehatan dan layanan neurologi yang komprehensif, kami berharap masyarakat mampu mengenali gejala gangguan saraf sejak dini, menerapkan pola kerja yang ergonomis, serta memperoleh penanganan yang tepat agar tetap sehat dan produktif," ujar dr. Beni.
Didukung layanan neurologi yang komprehensif dan teknologi diagnostik modern, Columbia Asia Hospital Aksara terus mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat, rutin berolahraga, melakukan peregangan di sela aktivitas, serta tidak mengabaikan gejala awal gangguan saraf. Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup sekaligus produktivitas di era digital.
